Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • Khalid bin Walid: Dari Sejarah ke Layar Game Mobile Legends

    Khalid bin Walid: Dari Sejarah ke Layar Game Mobile Legends

    wp.sorbansantri.com – Game Mobile Legend sering membuat karakter game mereka dengan inspirasi tokoh pahlawan atau pun mitos suatu daerah. Salah satunya Khaleed. Menurut cerita fiktif yang disematkan, Khaleed adalah pangeran dari Artha Clan, yang mencintai petualangan. Dia sangat menginginkan keagungan dari budaya Emerald Road, bermimpi bahwa suatu hari dia dapat mengunjungi Agelta Drylands yang luas dan menyaksikan kemakmurannya.

    Terlepas dari cerita fiktif yang ada, visualisasi tokoh Khaleed dalam game tersebut sangat menunjukkan representasi dari salah satu pejuang Muslim sekaligus sahabat Rasulullah SAW yang harus umat Muslim muliakan, yaitu Khalid Ibn Walid.

    Rasulullah SAW bersabda;

    اَللهُ اَللهُ فِيْ أَصْحَابِيْ لَا تَتَّخِذُوْهُمْ غَرْضًا بَعْدِيْ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّيْ أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِيْ أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آَذَاهُمْ فَقَدْ آَذَانِيْ وَمَنْ آَذَانِيْ فَقَدْ آَذَى اللهَ وَمَنْ آذَى اللهَ يُوْشِكُ أَنْ يُأخَذَ

    “Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya.“

    Dalam Takmilah al-Majmu’ disebutkan, salah satu bentuk penghinaan terhadap objek tertentu adalah menjadikannya mainan. Berikut keterangannya;

    وَاِذَا كَانَ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ التَّمَاثِيْلِ لَا يَظْهَرُ فِيْهِ قَصْدُ التَّعْظِيْمِ وَلَا التَّرَفِ وَلَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَحْظُوْرَاتِ السَّابِقَةِ فَالْاِسْلَامُ لَا يُضَيِّقُ بِهِ صَدْرًا وَلَا يَرَى بِهِ بَأْسًا . وَذَلِكَ كَلَعْبِ الْأَوْلَادِ الصِّغَارِ الَّتِيْ تُصْنَعُ عَلَى شَكْلِ عَرَائِسِ أَوْ قَطَّطٍ. أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ السِّبَاعِ وَالْحَيَوَانَاتِ لِأَنَّ هَذِهِ الصُّوَرَ تُمْتَهَنُ بَاللَّعْبِ وَعَبْثِ الْأَوْلَادِ بِهَا

    Jika ada jenis patung di mana maksud pemuliaan atau kemewahan tidak tampak, dan tidak ada larangan-larangan yang telah disebutkan sebelumnya, maka Islam tidak menyempitkan dadanya, dan Islam tidak melihat ada yang salah dengan itu. Demikian seperti mainan anak laki-laki yang dibuat dalam bentuk boneka atau kucing, atau binatang buas dan hewan lainnya, karena gambar-gambar ini dipermalukan dengan dijadikan objek bermain anak-anak.”

  • Muliakan Orang Tuamu Sebelum Terlambat

    Muliakan Orang Tuamu Sebelum Terlambat

    wp.sorbansantri.com – Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.
    Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun.
    Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.
    SORBANSANTRI.COM
    Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.
    Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata: “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”
    Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah.
    Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.
    ‘Orang tua’ bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat usang atau tidak berdaya. Segenap jiwa orang tua adalah untuk melihat anaknya mendapatkan kebahagiaan yang layak mwskipun mereka yang harus menderita.
    Bagi mereka, kesuksesan seorang anak adalah kesuksesan orang tua dalam mendidik anaknya dan kegagalan anaknya adalah kegagalan mereka dalam mendidik anaknya. setiap seluk beluk kehidupan orang tua berpusat pada bagaimana sang anak bisa sukses.
    Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya orang tua yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah. Orang tua kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita tidak menghormati mereka dan bahkan kurang ajar kepada orang tua. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita.
    Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orang tua kita, nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak akan sebanding dengan pengorbanan ayah ibu kita.
  • Tujuan Pendirian NU

    Tujuan Pendirian NU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Ormas ini didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926. Pembentukan NU tak bisa lepas dari peran sejumlah ulama yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
    Pendirian organisasi ini bermula dari dibentuknya kelompok-kelompok diskusi oleh sejumlah ulama. Pada tahun 1914 KH Wahab Chasbullah mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran. Ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran.
    Organisasi yang bertujuan memberikan pendidikan sosial-politik kaum santri itu lantas berkembang ke sejumlah kota di Indonesia. Dua tahun setelahnya atau pada 1916, para kiai pesantren mendirikan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air. Ini merupakan organisasi pergerakan untuk melawan penjajahan Belanda.
    Kemudian, pada tahun 1918 didirikan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar, organisasi untuk pedagang di era kolonial. Setelah muncul beberapa organisasi ini, muncul insiatif untuk menggabungkannya. Tujuannya supaya organisasi lebih kuat dan cakupannya lebih luas.
    Penggabungan ini juga merespons banyaknya masalah agama, mazhab, sosial, dan kebangsaan yang berkembang di masyarakat. Akhirnya, disepakati berdirinya “Nahdlatul Ulama” atau “Kebangkitan Ulama”. Kala itu KH Hasyim Asy’ari dipercaya sebagai Rais Akbar.
    Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.(SorBan Wanasari)
    Waallahu Alam.
  • Ini Alasan dan Fakta Kenapa Tahun 571 M Disebut Tahun Gajah

    Ini Alasan dan Fakta Kenapa Tahun 571 M Disebut Tahun Gajah

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Mengapa tahun 571 dinyatakan sebagai tahun gajah? Mungkin pertanyaan jarang diketahui generasi XYZ, dan saya tertarik untuk membahas ini karena ada pertanyaan dari quiz. Tidak bisa dipungkiri jika banyak orang yang tertarik dengan sejarah perjalanan agama, ilmu sejarah maupun kisah-kisah peradaban jaman kuno.

    Alasan mengapa tahun 571 Masehi disebut sebagai tahun gajah? karena dulunya tentara “Abraha al-Abyssinian” ingin menyerang Ka’bah pada tahun 571 Masehi, dimana seluruh pasukan Abraha al-Abyssinian semuanya menggunakan gajah sebagai armada perangnya.

    Meskipun memiliki banyak pasukan akan tetapi, segala upaya jahat yang dilakukan Abraha al-Abyssinian semuanya menjadi sia-sia karena ia tidak mampu menghancurkan Ka’bah dan menjajah suku Quraisy.

    Dalam beberapa catatan mengatakan, tujuan Abraha al-Abyssinian ingin menghancurkan Ka’bah adalah untuk menaklukkan orang-orang suku Quraisy dan Orang-orang Arab di Mekah, dan kemudian ingin menjajah mereka dan tunduk kepadanya.

    Abd al-Muttalib yang merupakan penguasa suku Quraisy (suku keturunan Ibrahim) saat itu dia memiliki beberapa unta dan kemudian Abraha al-Abyssinian ingin mengambilnya secara paksa. Kemudian Tuhan diceritakan, mengirimkan segerombolan burung Ababil yang membawa pecahan batu kecil dan menurut Surah Al-Fil batu Sijjil (kerikil neraka) dan menjatuhkannya ke arah pasukan Abraha al-Abyssinian dan kemudian mereka pun gagal menyerang dan merampas unta milik Abd al-Muttalib.

    Kemudian tahun 571 disebut sebagai tahun gajah, tahun gajah juga tertulis di ayat suci Al-Qur’an dalam Surah Al-Fil menceritakan tentang kisah penyerbuan dan kegagalan Abraha al-Abyssinian menyerang Ka’bah karena Allah SWT selalu melindungi Ka’bah dari orang-orang yang jahat. (abi sorban)

  • Hilangnya 5 Para Ksatria Tanah Jawa dan Hingga Kini Tak Terungkap

    Hilangnya 5 Para Ksatria Tanah Jawa dan Hingga Kini Tak Terungkap

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Indonesia adalah negara yang kaya akan adat istiadat dan budaya. Peradabannya sangat mahsyur dan di kagumi oleh seantero dunia di sebabkan oleh keanekaragaman akan peninggalan para leluhur zaman dahulu yang hingga kini masih lestari dan di jaga kemurniannya. Beberapa peninggalan tersebut berkaitan erat dengan berdirinya beberapa kerajaan yang kuat dan besar jauh sebelum nama Indonesia itu sendiri di kenal. Nama-nama besar seperti Majapahit, Sriwijaya, Padjajaran dan Mataram Kuno, adalah hanya beberapa dari sederet peradaban lain yang tentunya tidak kalah mentereng. Di antara peninggalan sejarah tersebut, salah satu yang masih sangat membekas dan di ajarkan turun-temurun dalam masyarakat adalah mitos tentang kesaktian para pendekar yang pernah merajai dunia persilatan di masa itu.

    Kisah-kisah akan kesaktian para pendekar tersebut sebagian masih tercatat dalam berbagai tulisan peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan masa lalu. Tetapi tahukah anda, bahwa sebagiannya hingga kini tak pernah terungkap dan tak di ketahui penyebab kematiannya dan di kuburkan di mana? Berikut ulasan 5 pendekar misterius Nusantara yang tidak terungkap hingga kini !

  • Biografi KH. Abdul Hamid Pasuruan

    Biografi KH. Abdul Hamid Pasuruan

    SORBANSANTRI.COM

    1        RIWAYAT HIDUP DAN KELUARGA

    1.1          LAHIR

    KH. Abdul Mu’thi atau yang biasa dipanggil dengan sapaan KH. Abdul Hamid Pasuruan lahir pada tahun 1333 H atau 1915 M di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang, di tengah kota kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

    Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya. Dul memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal.

    KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau menuturkan bahwa Dul adalah anak yang nakalnya luar biasa. Tapi kenakalan Dul tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Dul adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang.

    Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahnya, KH. Abdullah Umar tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali.

    Akhirnya, ayahnya mengirim Dul untuk mengaji kepada KH. Ma’shum dan KH. Baidhawi. Ketika mulai beranjak remaja (ABG), beliau mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian).

    Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. KH. Zaki Ubaid Pasuruan menuturkan bahwa Dul sampai bisa menangkap babi jadi-jadian.

    Meski begitu, sejak kecil beliau sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Dul bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.

    1.2        RIWAYAT KELUARGA

    Setelah 12 tahun belajar di Pondok Pesantren Tremas, KH. Abdul Hamid  dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nyai Nafisah. Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil KH. Abdul Hamid  sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut.

    KH. Abdul Hamid menikah dengan Nyai Nafisah pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H, selepas duhur pukul 1.00 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan.

    Setelah jam dan waktu sudah ditentukan, namun rombongan penganten pria tak kunjung datang hingga jam menunjuk pukul 2.00. Akhirnya, para tamu undangan dialihkan untuk acara walimah terlebih dahulu di rumah KH. Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah. Tapi sayangnya, hingga jam 3, rombongan pengantin tidak kunjung datang juga. Akhirnya satu persatu tamu undangan meninggal tempat acara.

    Setelah menunggu sangat lama, akhirnya pada waktu sore sekitar jam 4, rombongan penganten pria baru datang. Kepala romobongan, Kiai Ma’shum mengatakan “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali)”.

    Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan. Sejak itu, KH. Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian,KH. Abdul Hamid pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini KH. Abdul Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, KH. Abdul Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

    Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha. Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren.

    Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri dua orang yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

    1.3        WAFAT

    KH. Abdul Hamid, sama seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

    Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Pada Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah.

    Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un. Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam.

    Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Yogyakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.

    2        SANAD ILMU DAN PENDIDIKAN BELIAU

    2.1          MENGEMBARA MENUNTUT ILMU

    Pada usia sekitar 12-13 tahun, KH. Abdul Hamid  dikirim ayahandanya ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Di pondok tersebut Hamid hanya mengeyam pendidikannya satu setengah tahun, kemudian beliau pindah ke Pondok Tremas, Pacitan, Pondok yang di asuh oleh KH. Dimyathi.

    Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Beliau tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

    2.2         GURU-GURU BELIAU

    Guru-guru beliau ketika menuntut Ilmu pesantren adalah:

    1. KH. Ma’shum
    2. KH. Baidhawi
    3. KH Cholil Harun Kasingan
    4. KH. Dimyathi

    2.3         MENJADI PENGASUH PESANTREN

    Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.

    KH. Abdul Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.

    Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat. Hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru. Akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

    Berkat perkembangan pondok pesantren yang di asuh oleh beliau, akhirnya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar.

    3      PENERUS BELIAU

    3.1       PUTERA DAN PUTERI BELIAU

    Putera-puteri beliau yang menjadi penerus saat ini adalah:

    1. KH. Nu’man Hamid
    2. KH. Nasikh Hamid
    3. KH. Idris. Hamid

    3.2       MURID-MURID BELIAU

    Murid-murid beliau yang menjadi santri:

    1. Para santri di pesantren Salafiyah
    2. Prof. Dr. Mukti Ali

    4        KARIER BELIAU

    4.1.         PENGASUH PESANTREN

    Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Lain halnya dengan para tokoh ulama atau kyai lainnya yang terlibat dalam organisasi baik NU maupun Muhammadiyah, KH. Abdul Hamid Pasuruan adalah sosok kiai yang tidak mau terlibat dalam organisasi apapun, sehingga beliau tidak begitu dikenal di pentas nasional khususnya dalam percaturan politik.

    Inilah tokoh yang berada di belakang layar. Meski tak pernah tampil di organisasi, beliau didengar nasihatnya oleh kalangan teras NU, baik di pusat maupun di daerah. Beliau adalah sosok yang lebih mementingkan pendidikan para santri di pondoknya serta pembinaan masyarakat pada umumnya, baik di bidang ilmu maupun amal- dengan ujar-ujarnya yang lirih tapi efektif, dengan keteladanannya, dengan pancaran kesalehan pribadinya. Beliau, seperti halnya para wali lainnya, adalah tiang penyangga moral masyarakat.

    5.      TELADAN BELIAU

    5.1         KETAWADHU’AN KH. ABDUL HAMID

    KH. Abdul Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang). Ketika KH. Abdul Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi.

    Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, KH. Abdul Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat. Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu.

    Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu. Beliau memang rendah hati (tawadu). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan.

    Kiai Hasan Abdillah pernah mengatakan, “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok”. Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan.

    Mantan Menteri Agama dan juga junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas, Prof. Dr. Mukti Ali, pernah mengatakan, “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya.”

    Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekkah, bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia. Sikap tawadu itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau.

    Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadu beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadu, Allah akan mengangkatnya.”

    5.2           KESEDERHANAAN BELIAU

    Kesederhanaan K.H. Abdul Hamid Pasuruan ketika berbuka puasa hanya dengan memakan satu buah telur setengah matang, kurma, dan kopi. Beliau makan setelah shalat isya hal tersebut yang selalu diperaktikkan oleh santri beliau Kiai Ihsan Malang.

    Beliau juga dikenal ulama yang istiqomah dalam menjalankan ibadah shalat berjamaah dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap minggu. Beliau memulai membaca Al Qur’an ketika hari kamis siang mulai dan Khatam pada hari Kamis depan diceritakan oleh dzuriah beliau gus Amak. Selain itu beliau juga memiliki istiqomah amalan Al Fatihah 100 kali yang diceritakan salah satu santri Kh Abdul Hamid yang mendapatkan ijajah langsung.

    Syair K.H Abdul Hamid Pasuruan tentang amalan membaca Al Fatihah sebanyak 100 kali yang artinya:

    “Barang siapa yang melanggengkan atau istiqomah membaca Al Fatihah sebanyak 100 kali maka akan menemukan keajaiban-keajaiban yang itu tersembunyi.”

    6         KAROMAH BELIAU

    6.1            MEMBONGKAR KEWALIAN KH. ABDUL HAMID

    Sebelum menjadi kiai, semasa beliau mondok di Termas,KH. Abdul Hamid banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, beliau pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa beliau sedang berkhalwat.

    Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, KH. Abdul Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.

    Lambat laun, aktifitas suluk KH. Abdul Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, KH. Abdul Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.

    Salah satu karomah KH. Abdul Hamid yang dipercaya warga Pasuruan adalah bisa berada ditempat lain dengan wujud serupa. Hal ini terjadi saat Habib Baqir Mauladdawilah bertandang ke pesantrennya. Sang Habib yang pernah berguru dengan al-Ustadzul Imam Al-Habr al-Quthb al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih diberikan ilmu untuk bisa melihat sesuatu yang gaib.

    Pada suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui KH. Abdul Hamid. Ketika itu di tempat KH. Abdul Hamid banyak sekali orang yang datang untuk meminta doa atau keperluannya yang lain. Setelah bertemu Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti KH. Abdul Hamid sejatinya bukanlah sang Kiai . Karena yang ditemuinya adalah sesosok gaib yang menyerupai beliau. Kemudian Habib Baqir mencari dimanakah sebetulnya KH. Abdul Hamid yang asli berada.

    Setelah diselidiki dengan ilmu kanuragan Habib Baqir terkejut karena sang kiai tersebut tengah berada di Tanah Suci Mekkah. Karomah KH. Abdul Hamid juga pernah ditunjukkan terhadap seorang Habib sepuh yang datang kepadanya, karena sang Habib menanyakan kemana sang Kiai pergi ketika digantikan oleh sesosok gaib yang menyerupainya.

    KH. Abdul Hamid tidak menjawab, hanya langsung memegang Habib sepuh tersebut. Seketika itu kagetlah Habib sepuh tadi, melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan masjid yang sangat megah. Subhanallah, ternyata Habib sepuh tadi dibawa oleh KH. Abdul Hamid mendatangi Masjidil Haram.

    6.2             MERUBAH DAUN JADI UANG

    Salah satu karomah lainnya yaitu ketika Asmawi, salah seorang santrinya harus melunasi utang kepada panitia pembangunan masjid yang sudah jatuh tempo. Besarnya Rp300.000, cukup besar untuk ukuran waktu sekitar tahun 70-an.

    Dia tidak tahu dan mana uang sebanyak Itu bisa didapat dalam waktu singkat. Karenanya, dia hanya bisa menangis, malu kalau sampai ditagih. Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada KH. Abdul Hamid.

    Kemudian dengan lembut sang Kiai yang lantas menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman depan rumah Pak Kiai. Di sana ada dua pohon kelengkeng. “Kumpulkan daun-daun yang gugur itu dan bawa kemari,” kata KH. Abdul Hamid. Setelah menerima daun-daun kelengkeng itu, KH. Abdul Hamid memasukkannya ke dalam saku baju. Ketika ditarik keluar, di tangannya tergenggam uang kertas. Kemudian dia menyuruh Asmawi melakukan hal sama tapi pada pohon kelengkeng yang lainnya.

    Dengan cara yang sama pula, daun kelengkeng itu berubah menjadi uang kertas. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp225.000. Masih kurang Rp75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai Rp75.000 kepada KH. Abdul Hamid, lalu uang itu diserahkan ke Asmawi.

    6.3           MENGUJI KEWALIAN BELIAU

    Lain lagi yang dialami Said Ahmad, santri lainnya. Dia justru seolah ingin menguji kewalian KH. Abdul Hamid yang telah kesohor. Said Ahmad ingin tahu, apakah Kiai tahu bahwa dia ingin diberi makan olehnya. Ketika sampai di pesantren milik sang kiai, kebetulan saat salat lsya sudah masuk, dia pun ikut salat berjamaah.

    Usai salat, dia tidak langsung pulang, melainkan menunggu sampai jamaah pulang semua. Lampu teras rumah KH. Abdul Hamid pun sudah dipadamkan, pertanda pemilik rumah siap-siap beristirahat. Dengan demikian, dia pikir, niatnya berhasil, yaitu bahwa keinginannya untuk ditawari makan oleh Kiai tidak diketahui.

    Lalu dia pun melangkahkan kaki meninggalkan masjid. Ternyata dari rumah KH. Abdul Hamid ada yang melambaikan tangan kepadanya. Dengan langkah ragu, dia pun mendekatinya. Ternyata tuan rumah sendiri yang memanggilnya. “Makan di sini ya,” kata KH. Abdul Hamid sambil senyum. Dia pun diajak masuk ke ruang tengah. Di sana hidangan sudah tersaji. “Maaf, lauknya seadanya,” kata Kiai santai. “Sampeyan tidak bilang-bilang, sih.” Said tersindir. Dan sejak itu dia percaya, KH. Abdul Hamid adalah wali.

    6.4           MEMINTA NOMOR TOGEL

    Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke KH. Abdul Hamid. Oleh KH. Abdul Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan KH. Abdul Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian KH. Abdul Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan KH. Abdul Hamid. Oleh kiai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. KH. Abdul Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.

    7.         KARYA

    KH Abdul Hamid Pasuruan atau yang lebih dikenal (Mbah Hamid) dijiluki sebagai Abdul Juman (kitab sastra Arab atau kitab Balaghoh yang sangat sulit untuk dipahami) beliau justru sangat menguasai kitab tersebut, dibuktikan dengan beliau mengarang Kitab Nadzom  Sullam Taufiq yang mana nadzomannya ini mendapat pujian dari K.H Sahal Mahfud.

    Kitab Nadzom Sullam Taufiq karya K.H Abdul Hamid Pasuruan tersebut berisikan tiga bahasan pokok yaitu: Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf.

    8.         REFERENSI

    https://wiki.laduni.id

  • Biografi Imam as-Suyuthi

    Biografi Imam as-Suyuthi

    SORBANSANTRI.COM
    KELAHIRAN

    Imam as-Suyuthi lahir pada awal bulan Rajab tahun 849, tepatnya pada 3-10-1445 Masehi, di Mesir setelah Maghrib malam Ahad.

    Nama ayah beliau adalah Abu Bakr Muhammad ibn Abi Bakr. Seseorang yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti: fikih, hitung-menghitung, ushul, debat, nahwu, sharaf, bayan, badi’, menulis, dan seorang yang cerdas. Sejak muda ia telah meningalkan keluarganya di al-Usyuth dan merantau ke Kairo untuk menimba ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kedekatannya dengan Amir Syaikhu. Selama itu ia mendalami fiqih hingga pada tahun 1451 M wafat dalam usia 50 tahun, ketika Imam as-Suyuthi berumur enam tahun. Sedangkan Ibu Imam as-Suyuthi adalah keturunan Turki.

    NASAB

    Imam al-Hafizh Abu al-Fadhl Jalal ad-Din ‘abd ar-Rahman ibn Kamal ad-Din abi al-Manaqib abi Bakr ibn Nashir ad-Din Muhammad ibn Sabiq ad-Din abi Bakr ibn Fakhr ad-Din ‘Utsman ibn Nashir ad-Din Muhammad ibn Saif ad-Din Khadhr ibn Najm ad-Din abi al-Shalah Ayub ibn Nashir ad-Din Muhammad ibn as-Syaikh Hammam ad-Din al-Hammam al-Khudhairiy al-Usyuthiy.

    WAFAT

    Imam as-Suyuthi wafat disebabkan sakit tumor ganas di lengan kiri beliau. Ada juga yang mengatakan beliau jatuh kemudian terbaring sampai tujuh hari hingga akhirnya beliau wafat sebelum fajar malam Jumat, 19 Jumadil Ula tahun 911 H/17-10-1505 M di rumah beliau. Beliau dibacakan surat Yasin ketika sekarat, kemudian disholatkan oleh banyak orang di rumah beliau setelah shalat Jumat. Kemudian dishalatkan lagi untuk yang kedua kalinya oleh banyak orang yang jumlahnya tidak bisa dihitung karena saking banyaknya. Orang-orang di Damaskus juga melakukan shalat ghaib untuk beliau. Imam as-Suyuthi Rahimahullah dikuburkan di Kairo.

    PENDIDIKAN

    Imam as-Suyuthi memulai pendidikanya dengan belajar kepada ayahnya, beliau memberikan perhatian penuh terhadap Imam as-Suyuthi, mendidiknya untuk menghafal al-Qur’an, bahkan menemaninya belajar hadits kepada Ibnu Hajar al-Asqalani. Maka Imam as-Suyuthi kecil tumbuh dengan baik karena mendapat perhatian yang utuh dari orangtua dan para gurunya. Ia mampu menyelesaikan studinya di Masjid al-Syaikhuni setelah kematian ayahnya.

    Berkat kecerdasannya, Imam as-Suyuthi mampu menghafalkan al-Qur’an sebelum genap berusia 8 tahun. Kemudian beliau menghafal kitab ‘Umdat al-Ahkam dan al-Minhaj karangan imam an-Nawawi; Alfiyyah ibn Malik dan al-Minhaj karangan imam al-Baydhawiy.

    Setelah menghafal al-Qur’an, ia melanjutkan petualangan intelektualnya dengan mendalami fiqih mazhab Syafi’i kepada ‘Alamuddin al-Bulqaini dan diteruskan dengan putra al-Bulqaini. Ia mendalami ilmu-ilmu keagamaan dan bahasa Arab dengan Syeikh Syarafuddin al-Minawi dan Muhyiddin al-Kafiyaji (w. 889 H). Selanjutnya mendalami kitab Shahih Muslim, as-Syifa fi Ta’rif Huquq al-Musthafa, dan sebagainya bersama Syeikh Syamsuddin Muhammad Musa. Kemudian mempelajari hadits dan bahasa Arab sekitar empat tahun bersama Taqiyuddin al-Syumani al-Hanafi (w. 872 H).

    Rihlah merupakan suatu kebutuhan penting bagi penuntut ilmu, karena dengan rihlah kita bisa menyingkap tabir cakrawala demi mendapat kelebihan-kelebihan. Masing-masing daerah menyimpan ilmu-ilmu dan ulama yang berbeda, apa yang ada pada ulama di suatu daerah mungkin tidak dimiliki ulama daerah lain, maka, setelah imam as-Suyuthi banyak menuntut ilmu dari para ulama di daerahnya, beliau kemudian pergi menuntut ilmu ke berbagai daerah untuk memperoleh hadis atau sanad keilmuan.

    Maka Imam as-Suyuthi mengembara ke Syiria, Yaman, India, Maroko, Mesir dan banyak wilayah Islam lainnya. Ia pun berkali-kali mengunjungi Hijaz baik untuk menunaikan ibadah haji maupun menimba pengetahun. Beliau bertemu dan belajar dengan banyak ulama pada saat itu, dan beliau juga menuntut ilmu dari murid-murid ayahnya. Imam as-Suyuthi belajar berbagai ilmu pengetahuan dari mereka, seperti tafsir, hadis, fikih, mantiq, ilmu kalam, adab, serta ilmu tata bahasa.

    GURU-GURU

    Setelah dikumpulkan sekian banyak nama guru-guru imam as-Suyuthi, didapati bahwa jumlah guru beliau sekitar 204 orang, 42 orang dari perempuan, dan 162 orang laki-laki. Ini menunjukkan bahwasnya perempuan juga berperan penting dalam keilmuan imam as-Suyuthi. Beliau juga belajar kepada ulama dengan latar mazhab yang berbeda.

    Beberapa nama guru imam as-Suyuthi:

    1. Ibrahim ibn Ahmad ibn Yunus al-Ghaziy Tsamma al-Halbiy Burhan al-Din (ibn al-Dhu’ayyaf), lahir tahun 792 H.
    2. Ahmad ibn Ibrahim ibn Sulaiman al-Qalyubiy Abu al-‘Abbas (w. 868 H).
    3. Ibrahim ibn Muhammad ibn ‘Abdillah ibn al-Dairiy al-Hanafiy Burhan al-Din (w. 876 H).
    4. Abu Bakr ibn Ahmad ibn Ibrahim al-Makkiy Fakhru al-Din al-Mursyidiy (w. 876 H).
    5. Abu Bakr ibn Shidqah ibn ‘Aliy al-Munawiy Zakyu al-Din (w. 880).
    6. Abu Bakr ibn Muhammad ibn Syaddiy al-Hushaniy (al-Hushkafiy) al-Syafi’i Taqiyyu al-Din (w. 881 H).
    7. Abu Bakr ibn ‘Aliy ibn Musa al-Hasyimiy al-Haritsiy al-Makkiy (w. 895 H).

    Kebanyakan dari guru imam as-Suyuthi meninggal pada tahun 870-880 H. Ini artinya beliau belajar kepada guru-gurunya dalam usia kurang dari 30 tahun.

    MURID-MURID

    Murid-murid imam as-Suyuthi pun sangat banyak, dan penulis hanya akan menyebutkan beberapa diantaranya, yaitu:

    1. Ahmad ibn ‘Aliy ibn Zakaria Syihab ad-Din al-Judayyidiy (819-888)
    2. Asy-Syihab ibn Abi al-Amir al-Iyasiy al-Hanafiy asy-Syafi’i (lahir 863 H)
    3. Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn as-Siraj al-Bukhariy al-Hanafiy (883-948 H)
    4. Ibrahim ibn ‘Abd ar-Rahman ibn ‘Ali al-‘Alqamiy al-Qahiriy asy-Syafi’i (923-994 H)
    5. Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Aliy ibn Hajar al-Haitamiy asy-Syafi’i (w. 973 H)
    6. ‘Abd al-Wahhab ibn Ahmad asy-Sya’raniy (asy-Sya’rawiy) asy-Syafi’i (w. 973 H)
    7. Abu al-Khair ibn ‘Amus ar-Rasyidiy al-Hashariy

    KARYA-KARYA

    Imam as-Suyuthi menulis buku yang sangat banyak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, yang tidak dapat penulis rincikan satu persatu. Namun, beberapa diantaranya adalah :

    Bidang al-Quran dan Ulum al-Quran

    1. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran
    2. Mafatih al-Ghaib fi at-Tafsir
    3. Nawahid al-Abkar wa Syawarid al-Afkar
    4. Tafsir al-Jalalain
    5. Turjuman al-Quran

    Bidang Hadis dan Ulum al-Hadis

    1. Jami’ al-Kabir (Jam’u al-Jawami’)
    2. At-Tawsyih ‘ala al-Jami’ ash-Shahih
    3. Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim ibn al-Hajjaj
    4. Alfiyyah fi Mushtholah al-Hadis
    5. Tadrib ar-Rawi fi Syarhi Taqrib an-Nawawi
    6. Al-Luma’ fi Asbabi Wurud al-Hadis
    7. Al-Musalsalat al-Kubro

    Bidang Fikih dan Ushul Fikih

    1. Al-Hawi li al-Fatawi
    2. Taqrir al-Isnad fi Taysir al-Ijtihad
    3. Al-Asybah wa an-Nazhoir fi Qawa’id wa furu’ asy-Syafi’iyyah
    4. ‘Ulum al-‘Arabiyyah
    5. Al-Muzhir fi ‘ulum al-lughah
    6. Al-Asybah wa an-Nazhair fi ‘ilmi an-Nahwi
    7. Al-Iqtirah fi Ushuli an-Nahwi
    8. At-Tawsyih ‘ala at-Tawdhih
    9. Jam’u al-Jawami’ fi an-Nahwi
    10. Miftah at-Talkhish

    Karena sebagian besar guru beliau wafat dalam rentang waktu tertentu, pola pembelajaran intensif seperti ini juga terlihat dalam komunitas pokies online real money yang mengedepankan pengalaman di usia muda melalui bimbingan mentor berpengalaman.

  • Mengenal Asal Mula Istilah ASWAJA

    Mengenal Asal Mula Istilah ASWAJA

    SORBANSANTRI.COM

    1.Masa Rasulullah

    Pada masa itu umat Islam adalah umat yang satu dan tidak ada perselisihan dalam aqidah dan amalan. Hal ini karena masih adanya wahyu (Al-quran) dan nabi masih ada sebagai sumber hukum langsung dapat ditanyakan kepada beliau.

    2.Masa khulafaur rosyidin

    Ketika Rasulullah wafat, terjadi perselisihan diantara umat Islam untuk menentukan pemimpin baru. Calon dari golongan Anshor Sa’ad bin Ubadah, dari golongan muhajirin adalah abu bakar Ash Siddiq,dan dari golongan bani hasyim adalah Ali bin Abi Thalib. Melalui perdebatan yang panjang akhirnya Abu Bakar Ash Siddiq terpilih menjadi khalifah pertama. Inilah awal perselisihan diantara umat Islam.

    Pada zaman khalifah kedua, Umar bin Khattab,tidak nampak perselisihan dan perpecahan kecuali perselisihan dari orang-orang yang tidak diakui kebenarannya karena tidak berstandar dalil-dalil yang shohih.

    Pada zaman khalifah Usman bin Affan mulai bermunculan perbedaan pendapat karena sistem pemerintahan mengunakan sistem famili,walaupun masih tetap mempertimbangkan skill dan profesionalisme baik dalam bidang agama maupun pemerintahan. Setelah Usman meninggal terjadilah kekacauan di Madinah sehingga Abdullah bin Saba’ (pemimpin Mesir) menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah keempat.

    Pada masa Ali bin Abi Thalib, umat Islam pecah menjadi beberapa golongan. Hal ini disebabkan karena faktor semakin banyaknya umat Islam dan semakin banyaknya pemahaman di dalam mengartikan dan menafsirkan Al-quran dan Hadist Nabi.

    3.Masa Tabi’in

    Pada masa ini muncul reaksi terhadap ajaran Mu’tazilah dan Jabariyah. Pemikiran baru yang dikemukakan oleh Imam Asy’ari yang disempurnakan oleh Al Maturidi inilah yang menjadi pijakan umat islam yang disebut dengan ASWAJA. Pendapat – pendapat inilah yang menjadi rumusan kalau dalam bidang :

    a.Fiqih mengikuti salah satu madzab 4 (empat)

    b.Tauhid mengikuti salah satu Imam AL- Asy’ari dan AL Maturidi.

    c.Tasawwuf mengikuti rumusan imam Al – Junaidi.

    4. Akhir Abad ke 7 H

    Pada tahun 671 lahir seorang tokoh bernama Ibnu Taimiyyah yang mengajarkan pendapat – pendapat yang menyimpang diantaranya :

    a. Ziarah ke Makam Nabi adalah Ma’siyat.

    b. Menyatakan talak / cerai sekaligus tiga kali tidak jadi talak tiga.

    Ibnu Taimiyyah akhirnya dipenjara dan meninggal dipenjara tahun 728 M, namun ajarannya secara diamdiam diajarkan oleh para pengikutnya.

    5. Pertengahan Abad 12 H

    Pada tahun 111 M lahir seorang tokoh Wahabby yaitu Muhammad bin Abdul Wahab. Dia menganut ajaran Ibnu Taimiyah bahkan ditambah dengan pendapat-pendapatnya sendiri antara lain :

    a. Menetapkan anggota tubuh bagi Allah.

    b. Allah berada pada ruang dan gerak.

    c. Tidak boleh taqid kepada madzab 4.

    d. Mengharamkan tawasul dan mengharamkan ziarah kubur.

    6. Masa Wali Songo (Abad 14 – 16) Pada Tahun 1404 M datang seorang Ulama bernama Syekh Maulana Malik Ibrohim / Syekh Maghribi yang berasal dari Turki (riwayat lain dari Gujarat) menyebarkan Islam ditanah Jawa tepatnya di Gresik. Setelah mempunyai pengikut cukup banyak beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid.
    Konon kabarnya beliau mendapat bantuan dari raja cermain dalam membangun dan mendirikan Pon.Pes di Gresik. S. Maulana Malik Ibrohim (S. Gresik) itu tidak hanya ahli dalam bidang agama saja, beliau juga ahli dalam bidang perekonomian. Ini terbukti peningkatan ekonomi pertanian sangat maju di Gresik.
    Pada tahun 1401 M lahir seorang putra bernama R. Rahmatullah (Sunan Ampel) dinegeri Cempa.

    (Iqlilahdini sorban)

  • TALKSHOW SEJARAH NU PACET DI MOMEN HARLAH KE-99

    TALKSHOW SEJARAH NU PACET DI MOMEN HARLAH KE-99

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh NU lintas waktu dalam talkshow sejarah NU pada Harlah NU ke 99

    wp.sorbansantri.com – Pengurus Wakil Cabang NU kecamatan Pacet menggelar acara Doa berjamaah dalam rangka Harlah NU ke-99 (versi Hijriah atau ke-96 (versi Masehi) di gedung Graha NU Pacet yang dilaksanakan Rabu (16/2).

    Acara tersebut mengambil tema “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, yang disertai dengan talkshow sejarah perkembangan NU di lereng welirang dari awal adanya NU sampai sekarang. Menurut tokoh muda NU kecamatan Pacet yang biasa disapa Pak Agus (ketua MWCNU Pacet) menjelaskan, bahwa sejarah keberadaan NU di pacet seyogyanya diabadikan karena sejarah tidak boleh dilupakan. “Gedung ini (Graha NU Pacet) merupakan cagar budaya dan memiliki nilai historis tinggi bagi organisasi NU di Pacet”. terang Pak Agus.

    Dengan menghadirkan Tokoh-tokoh pelaku sejarah NU di Pacet yaitu Bapak Kusnan Kesiman, Bapak Hartono Cembor dan Abah Mud beliau-beliau bercerita perjalanan organisasi dari masa ke masa, mulai dari kepemimpinan, cara dakwah, kaderisasi, serta suka-duka dalam berorganisasi di NU kecamatan Pacet.

  • KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    SORBANSANTRI.COM

    sorbansatri.com – Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Rasulullah , Sayyidah Aisyah, banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

    Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

    Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya. Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.