Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • Kegiatan rutin LMDS-RA PAC GP Ansor kecamatan Ngoro

    Kegiatan rutin LMDS-RA PAC GP Ansor kecamatan Ngoro

    Sorrbansantri.com – Rijalul Ansor adalah bagian dari Ansor yang ada merupakan Banom dari Nahdlatul Ulama’ yang bergerak di bidang dakwah dan syiar agama lebih-lebih di ke-NUan.

    Hari Sabtu malam Minggu tanggal 20-2-2021 kegiatan rutin LMDS (Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat) yang bertempat di Masjid Darut Taqwa Dusun Kontrak Desa Ngoro, dalam rutinan ini dihadiri oleh seluruh Banom NU baik IPNU, IPPNU, ANSOR, FATAYAT, MUSLIMAT yang tersebar di seluruh Kecamatan Ngoro juga tim keamanan dari ratusan anggota Banser Satkoyon kecamatan Ngoro, selain dari itu tampak hadir juga tamu undangan dari Rois syuriah MWC NU Ngoro Kyai Marzuki Nur beserta jajarannya, juga turut mengundang Romo Kyai Khusain Ilyas, Kyai Muhajir sebagai pengisi maulidatul Hasanah,

    Acara pembukaan diisi dengan Pembacaan Ratib al-haddad Istighosah dan tahlil yang dipimpin oleh Gus Miftah, dilanjut dengan acara pemberian santunan kepada anak yatim yang di kordinir oleh gus Sujono selaku ketua umum Rijalul Ansor Kec Ngoro.

    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Ngoro sahabat Saufi, S.Kom berpesan kepada para anggotanya “untuk selalu mematuhi instruksi pemerintah dengan menjalankan kegiatan sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh petugas gugus Covid-19

    Dalam Maulidatul Hasanah yang pertama oleh KH Muhajir, beliau menyampaikan bahwa “kita harus sering-sering membaca shalawat Nabi sebagai bekal untuk menangkal penyebaran virus Corona yang sedang melanda negara kita ini
    Mauidhotul Hasanah yang kedua yang disampaikan oleh Romo Kyai Husein Ilyas,beliau berpesan “agar kita selalu hormat dan patuh kepada kedua orang tua kita lebih lebih kepada ibu kita karena ridhonya orang tua ridho Allah juga”
    acara terakhir di tutup dengan doa yg di pimpin oleh Kyai Marzuki Nur.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Dari keseluruhan rangkaian acara ditutup dengan gelar apel pasukan Banser sebagai tanda selesainya tugas untuk pengamanan selama acara LMDS berlangsung.yang langsung dipimpin oleh Sahabat Api’i selaku Kasatkoryon Banser Kec.Ngoro. (Hasan.sorban)

  • DO’A HADHRATUSSYAIKH HASYIM ASY’ARI

    DO’A HADHRATUSSYAIKH HASYIM ASY’ARI

    InfokomBanserNU- Ya Allah, bangunkan hati para ulama dan kaum Muslimin dari lelapnya lupa mereka yang melenakan, dan berilah mereka petunjuk menuju jalan yang benar.

    Ya Allah, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri.
    Hidupkan organisasi kami, organisasi Nahdlatul Ulama, dengan kehidupan yang baik, hingga hari kiamat, dengan berkat (ayat)
    فلنحينه حياة طيبة

    (Maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. QS. An-Nahl : 97)

    Dan jadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka (Nahdlatul Ulama), dan berilah mereka rejeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.

    Dan berilah mereka rejeki kekuatan yang mengalahkan atas setiap kebatilan, kezaliman, kejahatan, dan keburukan, semoga (dengan demikian) mereka bertaqwa.

    (red.abi)

  • IPNU IPPNU Adalah Ruh Organisasi Kaderisasi

    IPNU IPPNU Adalah Ruh Organisasi Kaderisasi

    InfokomBanserNU- Sebagai organisasi pengkaderan, tentunya IPNU dan IPPNU mempunyai jenjang atau fase pengkaderan bagi anggota-anggotanya.
    Fase pertama adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta adalah rekruitmen awal Rekan-Rekanita akan dibaiat menjadi anggota IPNU IPPNU.

    Kader IPNU-IPPNU berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pesantren, pemuda desa, Ikatan Remaja Masjid (Irmas) dan mahasiswa.
    Pada fase ini, anggota mulai belajar memahami akidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah NU dan lain-lainnya.

    Jadi Rekan-rekanita ikut Makesta dimana nih??
    Yuk coba absen
    Siapa tahu kita Seangkatan..

    Salam berjuta
    Belajar Berjuang Bertaqwa

    Team Media Pelajar
    PAC IPNU-IPPNU Kedungbanteng Kab. Banyumas.
    Alamat : Gedung MWC NU Kedungbanteng lantai 2 Jln raya Karangnangka kec Kedungbanteng

    #pelajarkedungbanteng
    #pacipnuippnukedungbanteng
    #dkaccbpkppkedungbanteng
    #pcipnuippnubanyumas

    (Pac Ipnu Ippnu Kedungbanteng)

  • Kehidupan Para Wali di Alam Barzakh

    Kehidupan Para Wali di Alam Barzakh

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – “Para wali tetap hidup di alam kuburnya (barzah) seperti kehidupan mereka di dunia. Para wali yang ahli tahajjud tetap tahajjud di alam kuburnya. Yang ahli tadarus Qur’an tetap tadarus Qur’an. Yang ahli silaturahim tetap silaturahim. Dan seterusnya. Hal ini sebagai kenikmatan yg mereka alami di alam kubur.
    Jika ada para peziarah berdiri mengucapkan salam dan do’a-do’a, maka si wali yg diziarahi juga ikut berdiri, menjawab salam dan mengamini do’a-do’anya. Jika para peziarah membaca Yasin, tahlil, dsb, maka si wali juga ikut membacanya. Jika para peziarah tawassul, maka beliau ikut mendo’akan.
    Diantara wali ada yg ahli darok (menolong), sering keluar dari kuburnya ke alam dunia ini untuk menolong para pecintanya. Diantara wali yg ahli darok adalah Mbah Hasan Minhajul ‘Abidin, Gabutan, Solo. Banyak cerita nyata dari para pecintanya yg membuktikannya. Diantara mereka ada yg ditolong dari kecelakaan, perampokan, dll. Sebagian mereka ada yg ingin sowan ke ndalem beliau sebagai rasa terima kasih dgn membawa oleh-oleh, layaknya orang yg akan sowan Kyai. Namun, mereka kaget setelah ditunjukkan oleh penduduk setempat, bahwa Mbah Hasan Minhaj itu sudah wafat dgn inilah makamnya.
    Dalil tentang hal ini diantaranya adalah ayat yg menjelaskan bahwa para syuhada’ (orang mati syahid) tetap hidup di alam kuburnya, yakni ayat :
    [ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ‏( ٢ ‏) : ﺍﻵﻳﺎﺕ ١٥٤ ]
    ﻭَﻻ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻟِﻤَﻦْ ﻳُﻘْﺘَﻞُ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻣْﻮﺍﺕٌ ﺑَﻞْ ﺃَﺣْﻴﺎﺀٌ ﻭَﻟﻜِﻦْ ﻻَّ ﺗَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ ‏( ١٥٤ )
    “Jangan kalian katakan bagi orang yg dibunuh di jalan Allah, (mereka) itu orang-orang mati ! Namun, mereka adalah orang-orang yg hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya”
    Jika para syuhada’ saja mendapat karunia tetap hidup di alam kuburnya, maka para ulama’ dan wali pasti mendapat karunia lebih besar, mengingat derajat mereka lebih tinggi.
    Di Indonesia jumlah makam wali sangat banyak dgn berbagai tingkatannya, nomor kedua setelah Hadlromaut, Yaman. Banyak kitab yg menulis biografi para wali di Timur Tengah, seperti kitab Jami’ Karomatil Auliya’, Thobaqotul Auliya’, dsb. Sebenarnya, di Indonesia waktu itu sudah banyak para wali, hanya saja tradisi tulis-menulis di tanah air belum semarak, jadi tidak sempat terbukukan.
    Tingkatan wali tertinggi disebut Al-Quthbul Ghouts, dan hanya ada 1 orang dalam setiap masa. Beliau dijuluki Abdullah. Kemudian, di bawahnya ada Al-Imamani (dua imam), yg salah satunya akan menggantikan Al-Ghouts ketika wafat. Kemudian di bawahnya ada Al-Autad, jumlahnya ada 4 orang. Imam Syafi’i dulu adalah pemimpin wali Autad. Kemudian di bawahnya ada Al-Abdal, jumlahnya ada 7 orang. Dst. Keterangan tentang tingkatan para wali bisa di baca diantaranya di kitab Jami’ Karomatil Auliya’. (Ustd Saefuddin Masykuri)
  • NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA

    NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA

    InfokomBanserNU-

    1. Ketuhanan yang maha esa
    katakanlah : Dialah Allah yang maha Esa. (QS. Al-Ikhlas, [112] : 1)

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil.
    (QS. An-Nisa’, [4] :135)

    3. Persatuan Indonesia.
    dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa” dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal.
    (QS. Al-Hujarat, [49] :13)

    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebaijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
    Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dg musyawarah diantara mereka.
    (QS. As-Syuro, [42] : 38)

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
    (QS. An-Nahl, [16] : 90)

    (red.abi)

  • Doa minta keteguhan hati

    Doa minta keteguhan hati

    InfokomBanserNU- Setiap hamba pasti sangat butuh meminta keteguhan diatas islam kepada Allah.

    Kekokohan atau Keteguhan iman ini sangat dibutuhkan setiap Muslim dalam urusan dunianya, dibutuhkan pula di kubur dan Akhiratnya.
    Maka sering-seringlah kita senantiasa Berdzikir kepada Allah 

    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

    _Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik_

    Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

    (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad 6: 315 hasan)

    Yuuuk Rekan-rekanita perbanyak dzikir kita,
    Agar senantiasa iman kita terjaga dengan baik..

    Salam berjuta
    Belajar Berjuang Bertaqwa

    Team Media Pelajar
    PAC IPNU-IPPNU Kedungbanteng Kab. Banyumas.
    Alamat : Gedung MWC NU Kedungbanteng lantai 2 Jln raya Karangnangka kec Kedungbanteng

    #pelajarkedungbanteng
    #pacipnuippnukedungbanteng
    #dkaccbkkppkedungbanteng
    #pcipnuippnubanyumas

  • Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh Abdul Moqsith Ghazali

    wp.sorbansantri.com – Belakangan warga NU luar Jawa Timur sudah mulai tahu nama pencipta Shalawat Nahdhiyah, yang tak lain dan tak bukan adalah KH Hasan Abdul Wafi. Siapa KH Hasan Abdul Wafi? Mari saya jelaskan secara singkat. Ia lahir di Pamkesasan Madura tahun 1923 dan wafat di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur pada Rabu, 31 Juli 2000. Lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin ibn Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah ibn Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham.

    Berbagai sumber mengisahkan bahwa Kiai Hadu dan Kiai Ruham adalah saudara kandung. Dan kita tahu bahwa Kiai Ruham adalah kakek dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin ibn KH.R Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham (1841-1951). Dengan demikian, jika dirunut dari jalur ayah, maka KH. Hasan Abdul Wafi adalah sepupu KH. R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990).

    Namun, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah keponakan Kiai As’ad, karena ibunda Kiai Hasan (Nyai Lathifah) adalah anak dari Kiai Jamaluddin Ruham yang notabene kakak kandung KH.R Syamsul Arifin. Namun, Kiai Hasan Abdul Wafi dan enam kakaknya seperti KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo (1912-2012 M.) dan Kiai Masduqi Miftahul Arifin (ayahanda KH. Badri Masduqi Probolinggo [1942-2002]) lebih memilih memanggil paman pada Kiai As’ad dan bukan kakak.

    Singkatnya, jika melalui jalur ayahandanya, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah Bani Hadu, maka melalui jalur ibundanya, beliau adalah Bani Ruham.

    Wafat dan dikebumikan di Pesantren Nurul Jadid Paiton karena Kiai Hasan Abdul Wafi adalah menantu KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau menikah dengan Nyai Aisyah binti Zaini Mun’im. Bukan hanya menantu, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Kiai Zaini. Ini karena istri Kiai Ruham yang bernama Nyai Nur Sari adalah saudara kandung Kiai Mudarik/Kiai Mudrikah.

    Jika dibentangkan, maka silsilahnya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi ibn Nyai Lathifah binti Nyai Nur Sari binti Kiai Ismail. Sementara silsilah Kiai Zaini adalah Kiai Zaini ibn Kiai Abdul Mun’im ibn Kiai Mudarik ibn Kiai Ismail. Dengan demikian, nasab Kiai Hasan dan Kiai Zaini bertemu di Kiai Isma’il (keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pesantren Kembang Kuning Pamekasan tahun 1619 M.)

    Demikian nasab biologis Kiai Hasan Abdul Wafi yang terhubung dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Zaini Mun’im. Bagaimana nasab ilmunya?

    Sebagaimana Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im yang santri kelana, maka Kiai Hasan Abdul Wafi juga. Ia malang melintang dari satu pesantren ke pesantren lain. Pertama-tama tentu Kiai Hasan belajar pada orang tuanya. Setelah ayah dan ibunya wafat ketika beliau masih kecil, maka Kiai Hasan melanjutkan studi ke Pesantren Banyuanyar yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Madjid ibn Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat.

    Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi yang belajar di Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Satu tahun sebelum Kiai Hasan Abdul Wafi lahir (1923), tahun 1922 KH Zaini Mun’im mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan asuhan KH Abdul Hamid yang dibantu putranya, KH Abdul Madjid (wafat tahun 1958 M.). Hal yang sama juga dilakukan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Beliau juga berguru pada Kiai Abdul Hamid. B

    Bahkan, menurut penuturan KH Muhyiddin Abdushomad (Rais Syuriah PCNU Jember), Kiai As’ad sempat menjadi menantu Kiai Abdul Madjid saat beliau menikahi Nyai Tuhfah binti Kiai Abdul Madjid. Setelah menikah selama dua tahun, karena satu dan lain hal, mereka berpisah, pernikahan tak bisa dilanjutkan.

    Dengan demikian jelas, sekiranya Kiai Hasan Abdul Wafi belajar pada Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, maka Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im belajar pada ayahanda Kiai Abdul Madjid, yaitu Kiai Abdul Hamid.

    Beberapa naskah menyebutkan bahwa Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat wafat tahun 1931 di Mekah dan dikuburkan di Pekuburan Ma’la bersama kuburan para ulama, para Sahabat Nabi, dan Siti Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi Muhammad SAW). Dan sepeninggal Kiai Abdul Hamid, persisnya tahun 1943 Kiai Abdul Madjid mendirikan pesantren sendiri yang diberi nama “Pondok Pesantren Mambaul Ulum” Bata-Bata Pamekasan.

    Usai belajar di Banyuanyar Pamekasan Madura, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan studi ke sebuah pesantren di Sidoarjo asuhan KH Sahlan selama dua tahun dan selanjutnya ke PP Darul Ulum Paterongan Rejoso Jombang yang saat itu sedang diasuh KH Ramli Tamim (1888-1958 M.), ayahanda KH Mustain Ramli (1931-1985). Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi, putra KH Zaini Mun’im seperti KH Moh. Hasyim Zaini (1939-1984) dan KH Abdul Wahid Zaini (1942-2002) juga pernah belajar di Pesantren Paterongan Rejoso Jombang ini.

    Beda dengan dengan enam saudaranya yang lain yang hanya studi di pesantren-pesantren di Jawa Timur, mka Kiai Hasan Abdul Wafi menempuh pendidikan dengan lokasi paling jauh, yaitu Pondok Pesantren Krapyak Jogyakarta. Di pesantren yang kuat tradisi al-Qur’annya ini, Kiai Hasan mendapatkan suasana akademis baru yang beda dengan pesantren-pesantren sebelumnya yang bertitik tekan pada fikih dan tasawuf.

    Di Krapyak, Kiai Hasan melengkapi diri dengan ilmu-ilmu qiraat langsung dari induknya, Ahlul Qur’an. Namun, apakah ketika mondok di Krapyak, beliau sempat berjumpa Kiai Munawwir yang wafat tahun 1942? Walahhu’alam.

    Yang jelas, dari pengembaraan panjangnya mulai dari Banyuanyar hingga Krapyak, Kiai Hasan Abdul Wafi tak pulang ke Pamekasan lagi. Tahun 1956, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan belajarnya pada Kiai Zaini Mun’im yang saat itu merintis pendirian Pesantren Nurul Jadid. Bersama sang kakak, KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, Kiai Hasan Abdul Wafi ikut membantu pembangunan pesantren tersebut.

    Di Nurul Jadid, Kiai Hasan rupanya tak hanya mendapat ilmu melainkan juga istri. Tahun 1957, Kiai Hasan menikahi Nyai Aisyah Zaini Mun’im dengan dikaruniai 12 anak, salah satunya KH Kholilurrahman (mantan Bupati Pamekasan).

    Dalam berorganisasi, Kiai Hasan Abdul Wafi juga mengikuti langkah Kiai Zaini Mun’im; aktif di NU bukan di organisasi lain. Sebagaimana dikisahkan sebagian sumber, awalnya ketika NU keluar dari Masyumi tahun 1952, Kiai Zaini sempat bimbang antara bertahan di Masyumi dan hijrah ke Partai NU.

    Kebimbangan ini bisa dimaklumi. Di satu sisi, Kiai Abdul Madjid putra Kiai Abdul Hamid yang sekaligus guru Kiai Hasan Abdul Wafi tersebut mengajak Kiai Zaini untuk aktif di AKUI, organisasi yang berada di bawah payung Masyumi. Sementara di sini lain, Kiai Zaini masih memiliki keterikatan batin dan kontak perjuangan dengan para kiai alumni Pesantren Demangan Bangkalan asuhan Saikhuna Kholil Bangkalan dan Pesantren Tebuireng asuhan KH Hasyim Asy’ari yang sebagian besar memilih membesarkan Partai NU daripada yang lain.

    Berhari-hari dalam kebimbangan, Kiai Zaini Mu’im melakukan permenungan mendalam dan menjalani shalat istikhorah. Akhirnya, ditemukan jawaban langit bahwa dirinya mantap memilih NU sebagai media perjuangan dengan konsekuensi keluar dari Masyumi.

    Sejak itu, Kiai Zaini dan seluruh keluarga besar PP Nurul Jadid termasuk Kiai Hasan Abdul Wafi aktif ber-NU. Tak hanya menjadi warga NU biasa, Kiai Zaini pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Kraksaan Probolinggo. Dan mengikuti jalan hidup Kiai Zaini, Kiai Hasan Abdul Wafi juga pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Kraksaan.

    Putusan Munas NU tahun 1983 agar NU kembali ke khittah 1926 melegakan Kiai Hasan Abdul Wafi. Sejak itu, beliau tak melibatkan diri dalam carut-marut politik praktis. Kiai Hasan berkonsentrasi pada upaya menjadikan NU sebagai media dakwah untuk mengedukasi masyarakat.

    Beliau berkeliling dari desa ke desa untuk menyampaikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Semboyannya yang paling terkenal, masyarakat harus memiliki pengetahuan setara S2, yaitu Sullam Safinah.

    Tak hanya berdakwah ke kampung-kampung. Kiai Hasan Abdul Wafi juga rajin mengikuti aktivitas bahtsul masail NU, mulai dari tingkat PCNU hingga PWNU bahkan Munas dan Muktamar NU.

    Di beberapa diskusi dan bahtsul masail, Kiai Hasan Abdul Wafi berada dalam lingkaran diskusi panas dengan para kiai NU lain. Natijah-natijah hukum Islam yang disampaikan para nara sumber seminar dan perumus bahtsul masail kerap mendapatkan tantangan akademik cukup kuat dari KH Hasan Abdul Wafi.

    Dalam sebuah acara halaqah tentang hukum bunga bank yang diselenggarakan Ma’had Aly Situbondo Jawa Timur, Kiai Hasan Abdul Wafi misalnya terlibat dalam diskusi tajam dengan Prof. Dr. KH Sjechul Hadi Permono (1941-2010). Tarik tambang tambang pemikiran tak terhindarkan.

    Namun, alhamdulillah, diskusi yang sempat panas itu berhasilkan didinginkan oleh sang moderator piawai, KH Yusuf Muhammad Jember (1952-2004). Ya Allah, tiga kiai itu sekarang sudah tidak ada, dipanggil Allah. Allah rahimahum wa nawwara quburahum wa a’ada ‘alaina min barakatihim.

    Akhirnya, saya mengenang Kiai Hasan Abdul Wafi sebagai orang alim terutama di bidang fikih, teguh pendirian, dan memiliki komitmen ke-NU-an cukup kuat. Soal komitmen ke-NU-annya salah satunya tercermin melalui Shalawat Nahdhiyah-nya yang kini berkumandang di mana-mana.. (abi sorban)

  • Saya NU,Tapi NU nya Mbah Hasyim.,

    COPAS

    Hu – Ada warga NU yang suka membanggakan sebelah dengan terus menghujat kiai NU dan segala kebijakan para kiai besar di pengurus. Ia kemudian mengaku tidak bangga lagi dengan NU karena NU kini tidak sama lagi dengan NU zaman Mbah Hasyim Asyari. Beikut ini penjelasan strategi dakwah NU yang ditulis dalam bentuk dialog.

    “Aku malu jadi warga NU sekarang”.

    “Kenapa memangnya?”

    “NU sekarang tidak kayak NU zaman Mbah Hasyim dulu, sekarang NU disusupi Syiah, liberal, komunis bahkan sangat dekat dengan non muslim. Kalau Zamannya Mbah Hasyim kan masih murni, lurus, tidak disusupi macam-macam”.

    “Emang kamu pernah hidup dan merasakan NU di masa Mbah Hasyim?”

    “Nggak juga sih”.

    “Makanya jangan sok tahu dan termakan fitnah dan isu tidak benar”.

    “Kamu tahu kan Jepang itu penjajah yang menyembah matahari?”

    “Kalau itu tahu lah, kan banyak di tulis di buku sejarah”.

    “Kamu tahu nggak, NU nya Mbah Hasyim itu malah menginstruksikan santri-santri untuk latihan militer dengan Jepang. Bahkan Mbah Hasyim jadi Ketua Shumubu atau menteri agamanya Jepang. Padahal kan Jepang kafir, penjajah lagi. Dan ternyata NU nya Mbah Hasyim bisa kok bersikap kooperatif dengan Jepang”.

    “Masa Sih?”

    “Iya, Dan kamu tahu nggak kalau Mbah Wahab Hasbullah itu pernah dicap Kiai Komunis loh karena bersikap kooperatif dengan Bung Karno dalam Nasakom nya (berbeda dengan Masyumi yang memilih keluar)”.

    “Masa sih?”

    “Iya, itulah siyasah, strategi dakwah, lihatlah dampaknya, dengan kooperatif kepada Jepang akhirnya bangsa Indonesia dapat bertempur dengan baik dan akhirnya merdeka. Dengan kooperatif kepada Bung Karno yang dekat komunis akhirnya umat Islam terselamatkan dari bahaya komunis bahkan atas saran NU, akhirnya Bung Karno tidak jadi Membubarkan HMI”.

    “Gitu ya?”

    “Jadi NU Mbah Hasyim dan NU sekarang itu tetap sama, membela Islam dan Indonesia, bukan salah satunya, Islam saja atau Indonesia saja, Karena kalau membela salah satunya akan bisa memunculkan perang antar anak bangsa yang akhirnya ibadah jadi tidak nyaman dan selalui dihantui ketakutan”.

    “Oo gitu ya? Kalau begitu aku tidak malu lagi jadi NU, aku akan Bangga jadi NU”.

    “Makanya jangan percaya isu, fitnah atau hoax yang menjelekkan NU, belum apa-apa sudah nuduh macem-macem pada NU sekarang, kita nggak tahu yang sebenarnya, kita hanya tahu dari berita, medsos yang belum tentu benarnya, sebaiknya kita Husnudzon saja kepada penggede NU”.

    “Karena strategi NU ini mirip dengan strategi Nabi dalam berdakwah, kapan-kapan saja saya kasih tahu, sekarang ayo kerja, wes wayahe tandur”. Salam. Sorbansantri

  • Menjadi NU itu Berat

    Menjadi NU itu Berat

    SORBANSANTRI.COM

    Berat karena harus bisa meredam fitnah, hujatan dan caci maki.

    Dari zaman Mbah Hasyim Asy’ari sampai Zaman Mbah Yai Said Aqil, terpaan anginnya setap semakin sencang dan pohonnyapun tetap semakin tinggi.

    Apa yang aneh di NU ?
    Ya..Banyak, termasuk para Kiyainya yang stylenya suka guyon dan aneh bin nyeleneh.
    Dan bagi warga Nahdliyyin tulen itu hal yang biasa saja. Tapi tidak untuk warga yang bukan NU apalagi mengaku-ngaku NU.

    Jadi, jangan heran kalau ada orang mengaku NU tetapi membenci para Kiyai NU, apalagi tidak mengakui institusi NU. Bisa dipastikan orang ini tak memahami NU. Kalaupun ada segolongan yang menggariskan NU dengan mistarnya, bisa dipastikan mereka adalah kelompok barisan sakit hati.

    Bagi warga Nahdliyyin ikut apa kata Kiyai adalah prinsip dan melanggar prinsip adalah kuwalat.

    Orang yang tak faham bisa bicara fanatik buta. Tapi kebutaan adalah fakta dan senjata ditengah gempuran faham-faham baru yang datang bermunculan merongrong kedamaian Negara. Diantaranya adalah faham radikal dan intoleran.

    Disini penulis bicara ngawur.
    Tetapi mencoba bicara jujur atas apa yang diucapkan Mbah Gus Dur, tahun 2005.

    Dawuh Mbah Gus Dur : Anak muda NU akan bangkit 10 tahun lagi. Kita akan panen. Mereka akan kalah dengan anak muda kita”

    Maka kejujuran adalah milik Mbah Gus Dur.
    Dan hati yang jujur adalah yang mau menerima keberadaan Mbah Gus Dur

    Salam Pecinta Mbah Gus Dur, Sakinah

  • PC TURBA di PAC GP ANSOR Kec.Pungging

    PC TURBA di PAC GP ANSOR Kec.Pungging

    Infokom NU Mojokerto. Agenda TURBA PC GP ANSOR Kab.Mojokerto yang ke-5 adalah di PAC GP ANSOR Kec.Pungging pada tanggal 16 Februari 2020 pukul 20.00wib-selesai di kantor mwcNU Kec.Pungging

    Yang mana dalam turba tersebut bertujuan untuk silaturrohmi dan untuk mempererat hubungan antara PC dan PAC ANSOR di jajaran Kab.Mojokerto. dalam agenda TURBA tersebut dihadiri ketua PC GP ANSOR,Sekertaris PC GP ANSOR,dan Kasatkorcab Banser Kab.Mojokerto beserta jajarannya.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto bersama ketua PC GP ANSOR Gus Ali

    Dalam acara tersebut ketua PAC GP ANSOR Kec.Pungging Adam Moh Hatta memberikan sambutan. ” Agenda Giat di PAC sangat banyak dan padat yang diadakan juga di masing2 Ranting. Dan agendan/even besar yang akan diadakan oleh PAC Pungging yaitu:di bulan Maret berupa Sholawatan Akbar dan di bulan April berupa pengajian Gus Muafik”

    SORBANSANTRI.COM
    Sambutan ketua PAC Adam Moh Hatta

    #Infokom NU Mojokerto 17/02/2020

    #By IRUL