Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • Cara Mencitai Allah SWT

    Cara Mencitai Allah SWT

    InfokomBanserNU- Mencintai Allah SWT adalah menjadikan Allah SWT dan segala perintahnya sebagai prioritas utama dalam segala wujud kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah SWT adalah cinta pada level tertinggi, mengalahkan segala bentuk cinta kepada manusia, termasuk kepada orang tua, istri, anak-anak, harta benda dan semuanya.

    Jangankan menjadikan yang selain Allah SWT itu lebih tinggi derajatnya dengan cinta kepada Allah, bahkan bila hanya sama dan sederajat saja, sudah dikatakan zalim oleh Allah.

    Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. QS. Al-Baqarah: 165)

    Apalagi bila menjadikan semua itu lebih kita cintai dari Allah, tentu lebih parah lagi. Allah menyebut mereka yang mencintai selain dirinya dengan tingkat kecintaan yang lebih tinggi dari mencintai Allah, mereka adalah orang fasiq.

    Katakanlah, “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 24)

    Tata Cara Mencintai Allah

    Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah SWT. Bukan dengan cara mengarang-ngarang sendiri, apalagi menciptakan sendiri ritual-ritual aneh yang tidak ada dasarnya dari Allah SWT.

    Dan bentuk mencintai Allah SWT yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW. Sebab beliau adalah petugas resmi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk real sebuah cinta kepada-Nya.

    Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Ali Imran: 31)

    Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah SWT, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah.

    Sebab kedudukan Rasulullah SAW adalah sebagai utusan resmi satu-satunya dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

    Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr: 7)

    Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).

    Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.

  • Rakerancab PAC GP ANSOR Kec.Mojosari

    Rakerancab PAC GP ANSOR Kec.Mojosari

    Infokom PAC Mojosari- Pada kepengurusan sahabat Taufikur Rohman sebagai ketua PAC GP ANSOR Kec.Mojosari massa khidmat tahun 2019-2021 dan untuk menyamakan visi-misi dalam pelaksanaan tugas di tiap2 lembaga,maka pada hari Minggu tanggal 9 Febuari 2020 pukul 08.00wib sampai selesai bertempat di gedung MWCNU Kec.Mojosari mengadakan Rakerancab (Rapat Kerja Anak Cabang) PAC GP ANSOR Kec.Mojosari yang ke-1

    SORBANSANTRI.COMKetua PC GP ANSOR Kab.Mojokerto memberi sambutan

    *Mengoptimalkan peran GP ANSOR di era Millenial* adalah TEMA dalam Rakerancab tersebut,yang hadiri oleh semua PH (Pengurus Harian) dan semua anggota Ansor beserta lembaga2 yg ada didalamnya.

    SORBANSANTRI.COM
    Suasana Rakerancab di gedung mwcNU kec.Mojosari

    Dalam Rakerancab PAC GP ANSOR Kec.Mojosari juga dihadiri/mengundang Pengurus PC dan Banom NU antara lain: 1.Ketua PC GP ANSOR Kab.Mojokerto *Gus Ali M Nasih* 2.Sekertaris PC GP ANSOR Kab.Mojokerto Sahabat *Yunus* 3.Sahabat/rekan2 IPNU dan IPPNU Kec.Mojosari. 4.uga hadir dalam acara tersebut Bapak AMIRUDDIN anggota DPRD Kab.Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM
    Bapak Amiruddin memberi sambutan

    By.irul infokom pac mojosari

    SORBANSANTRI.COM
    Peran aktif BAGANA dalam setiap kegiatan di PAC Mojosari
  • SRI MULYANI HADIRI LAILATUL IJTIMA’ MWC NU PURI

    SORBANSANTRI.COM

    Kegiatan rutin bulanan Lailatul Ijtima’ MWC NU Kecamatan Puri kali ini digelar pada hari Sabtu malam (08/02) di Masjid Darussalam Desa Mlaten. Dalam kesempatan ini dihadiri ketua PCNU Kabupaten Mojokerto KH. Abdul Azdim Alwi sekaligus memberikan tausiah. Hadir juga Kapolsek Puri yang baru yakni Ibu Sri Mulyani sekaligus memberikan sambutan mewakili Forkopimca Puri.

    Ibu Kapolsek Puri, Sri MulyaniDalam memberikan sambutan, Ibu Sri Mulyani sempat membuka dengan sedikit canda bahwa namanya sama seperti nama Menteri Keuangan. “Iya nama saya Sri Mulyani sama seperti nama Menteri Keuangan”. Canda Ibu Sri yang disambut tawa jamaah.

    Selain memperkenalan diri, kesempatan sambutan itu juga ia gunakan untuk wadah bersilaturrahim serta memohon dukungan, kerjasama dan do’a agar wilayah Kecamatan Puri tercipta suasana yang aman dan kondusif. Terlebih dalam menangani berbagai macam kasus besar maupun kecil yang baru-baru ini terjadi agar senantiasa diberikan kelancaran dalam mengungkap kasus-kasus tersebut. Juga meminta do’a dalam rangka menyongsong perhelatan Pilkada mudah-mudahan selalu tercipta suasana yang aman, lancar dan kondusif.

    Selanjutnya tausiah KH. Abdul Adzim. Di antara poin penting yang ia sampaikan adalah siapa saja yang ingin selamat maka dekatlah dengan orang-orang ‘Alim (berilmu) atau para kiai. Ia menyitir hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Man qarraba ‘Aliman kana saliman… Sopo wonge sing cidek marang wong-wong ‘alim, poro kiai mongko selamet. Camat’e Slamet, Kapolsek’e slamet, Lurahe Slamet, kabeh slamet”. (Siapa yang dekat dengan orang-orang ‘alim atau para kiai, maka selamat. Camatnya selamat, Kapolseknya selamat, Lurahnya selamat, semuanya selamat). Terang Kiai Adzim.

    Sebaliknya, “Man qarraba bajingan kana ketularan… barang siapa dekat dengan bajingan maka ketularan”. Lanjut kiai Adzim yang menyampaikan kata-kata yang pernah ia dapatkan dari Gus Miek (KH. Hamim Djazuli).

    Kia Adzim juga menyampaikan nasihat agar kegiatan Lailatul ijtima’ senantiasa terus diikuti karena ini merupakan identitas yang dimiliki NU dan merupakan peninggalan para ulama’ terdahulu. Kemudian, berkenaan dengan pesta domokrasi agar selalu mementingkan persatuan. Jangan sampai karena beda pilihan tidak lagi ikut lailatul ijtima’.

    Di tengah acara lailatul ijtima’ ini juga terdapat momen penyerahan Sertifikat/Akta Tanah Wakaf Gedung MWC Puri. Dalam serah terima terbut diwakili oleh Agus Zainal Abidin (Gus Zen).

    SORBANSANTRI.COM

    Kegiatan ini berjalan lancar sesuai yang diharapkan semua pihak khususnya panitia. “Alhamdulillah cuaca terang, ora udan, akeh sing teko sekitar 1200 jamaah.” (Alhamdulillah, cuaca terang, tidak hujan, banyak yang hadir sekitar 1200 jamaah). Ungkap Siswoyo selaku Ketua Ranting GP Ansor Desa Mlaten yang juga bertindak sebagai panitia.

    SORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COM
    Warga nahdliyyin Kecamatan Puri mulai dari Muslimat, Fatayat, GP Ansor-Banser, ISHARI, CBP IPNU-IPPNU tampak hadir berkhidmat menyatu dalam acara tersebut.

    (Red: Fahrulirwan/Infokom)

  • SATUKAN LANGKAH DAN PERSEPSI KERJA, PC LTMNU TEMANGGUNGGUNG ADAKAN RAPAT SOSIALISASI SINGKAT DENGAN PENGURUS MWC

    SATUKAN LANGKAH DAN PERSEPSI KERJA, PC LTMNU TEMANGGUNGGUNG ADAKAN RAPAT SOSIALISASI SINGKAT DENGAN PENGURUS MWC

    InfokomBanserNU- Ahad, 2 Februari 2020. Pengurus Cabang LTMNU Temanggung yang belum lama ini dilantik, mengadakan sosialisasi singkat program LTMNU Ke Beberapa Pengurus MWCNU Temanggung.

    Kali pertama MWC yang menerima Sosialisasi adalah Pengurus MWC Tretep dan MWC Jumo, yang dalam waktu dekat akan berlanjut ke beberapa pengurus MWC se-Kabupaten Temanggung.

    Beberapa pihak terkait yang hadir pada Pertemuan ini adalah dewan Syuriyah, Tanfidziyah, Pengurus LTMNU MWC dan sebagian Pengurus LTM Ranting.

    Di dalam pertemuan yang begitu antusias ini, Sembari ramah tamah, pada acara inti satu persatu perwakilan dari masing-masing Devisi pengurus Cabang LTMNU menyampaikan sosialisasi terkait tugas pokok dan fungsi masing- masing devisi dan beberapa program kegiatan masa hidmah 2019/2024. Harapanya Masing-Masing devisi pengurus MWC sampai Ranting akan bertambah tahu dan paham akan tugas dan fungsinya menjadi pengurus, mengingat tahun 2019 lalu adalah tahun purna hidmah periode 2015/2019 yang sekarang beralih ke-pengurus yang baru. setelah mengikuti sosialisasi ini, pengurus yang baru mempunyai persepsi dan langkah yang sama dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab di lembaga LTMNU sehingga rencana program kegiatan periode 2019/2024 dapat berjalan dan terealisasi dengan baik.
    #riayah #idaroh #imaroh #media #pcltmnu #pltmnumwc

    (Team media PC Ltmnu Temanggung)

  • Hukum Sedekah Laut (Larung Sesaji) dan Sedekah Bumi (Sedekah Desa)

    Hukum Sedekah Laut (Larung Sesaji) dan Sedekah Bumi (Sedekah Desa)

    Cyberaswaja.online|Pada tanggal 1 Suro (1 Muharram), sering kita dijumpai tradisi Larung Sesaji di laut oleh penduduk pesisir yang berprofesi sebagai nelayan.

    Di sisi lain, sebagian besar masyarakat pedesaan mengadakan acara Sedekah Bumi setelah panen raya.

    Apakah tradisi-tradisi tersebut merupakan kesyirikan?

    Sebagai santri, kita harus ingat ungkapan ulama kita:

    وقد قِيل -بحق- إنه إذا حُمل القول على تسعة وتسعين باباً تحتمل الكفر، وباب واحد يحتمل الإيمان وجب أن نحمِله على الإيمان

    “Jika ada 99 perkataan yang sudah mengarah kepada kekufuran dan masih ada 1 peluang untuk diarahkan kepada iman, maka wajib mengarahkannya kepada iman.”

    Mengapa? Karena, hari ini mengislamkan satu orang saja sulit, apalagi satu kampung? Aneh jika yang sudah muslim tiba-tiba dihukumi auto syirik dan kafir semua. Padahal masih ada celah untuk meluruskan agar dalam menjalankan tradisi, mereka tidak tergelincir ke dalam kekufuran.

    Sekarang mari kita kaji dua hal dalam Larung Sesaji yang sering dihukumi syirik oleh kaum Takfiri.

    1. Penyembelihan Hewan

    Dalam Al Qur’an sudah dijelaskan ketika menyembelih membaca BISMILLAH maka sembelihannya HALAL. Bukan untuk menghormati penunggu laut, Nyi Roro Kidul atau hal selain Allah.

    Imam Ibnu Hajar al-Haitami, salah satu ulama ahli tarjih dalam mazhab Syafi’i mengatakan:

    ﻭﻣﻦ ﺫﺑﺢ ﺗﻘﺮﺑﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺪﻓﻊ ﺷﺮ اﻟﺠﻦ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ، ﺃﻭ ﺑﻘﺼﺪﻫﻢ ﺣﺮﻡ

    “Barang siapa menyembelih hewan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari gangguan jin, maka tidak haram (boleh). Atau menyembelih dengan tujuan kepada jin maka haram (Tuhfatul Muhtaj 9/326)

    Ketika ditanya, para nelayan menjawab bahwa acara Larung Sesaji ini adalah untuk meminta kepada Allah

    Sedejah bumi
    Dok.Sedekah bumi

     agar diberikan keselamatan selama melaut dan berlimpahnya rejeki tangkapan ikan

    1. Kepala Sapi/Kerbau Dilarung ke Laut

    2. Menaruh makanan di pematang sawah (Sedekah Bumi)

    Apa nomer 2 dan 3 ini tidak termasuk perbuatan mubazir?

    Habibuna Luthfi bin Yahya mengarahkan agar kepala sapi atau kerbau yang dilarung di laut tersebut diniatkan untuk memberi makan terhadap ikan-ikan di laut.

    Apa mendapatkan pahala? Tentu saja dapat pahala.

    Kata Nabi, jika diniati sedekah/ memberikan makanan kepada makhluk hidup akan dapat pahala.

    Kita lihat dalam hadis sahih ketika ada sahabat nabi yang mengambil air untuk anjing yang kehausan, kemudian Nabi mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengampuni dosa orang tersebut karena perbuatannya kepada anjing.
    Mendengar itu para sahabat bertanya:

    <

    p style=”text-align: right;”>ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺇِﻥَّ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ اﻟﺒَﻬَﺎﺋِﻢِ ﺃَﺟْﺮًا؟

    “Wahai Rasulullah apakah kami dapat pahala memberi makan binatang?”

    ﻗَﺎﻝَ: «ﻓِﻲ ﻛﻞ ﻛﺒﺪ ﺭَﻃْﺒَﺔٍ ﺃَﺟْﺮٌ»

    Nabi bersabda: “Pemberian makan untuk setiap perut makhluk hidup ada pahalanya.” (HR Bukhari)

    Tugas para da’i seperti Rijalul Ansor adalah meluruskan dengan bijak terhadap hal-hal yang kurang sesuai dengan ajaran Islam.
    Bukan lantas mengkafirkan keseluruhan umat karena tradisi yang dilakukannya, seperti yang sering dituduhkan oleh golongan Takfiri.

    Penulis : Ki Narto (Rijalul Ansor Kab.Mojokerto)

    Editor : WG-Infokom

  • Gus Baha: Muhasabah Intropeksi Buat Kita orang NU

    Gus Baha: Muhasabah Intropeksi Buat Kita orang NU

    InfokomBanserNU- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama. Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet. Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.

    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya. Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.

    Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah. Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas. Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji gus baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.

    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya. Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini. Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.

    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi. Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim. Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka.

    Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari. Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain.

    Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.

    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.

    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. – ditulis secara bebas –

    KH. Bahauddin Nur Salim (Rois Syuriah PBNU)

  • KEMERIAHAN HARLAH NU KE-94 DI JETIS MOJOKERTO

    KEMERIAHAN HARLAH NU KE-94 DI JETIS MOJOKERTO

    Cyberaswaja.online|Jetis. Semarak Harla NU ke-94 di seluruh Nusantara begitu ramai dengan ragam kegiatan yang dilakukan. Seperti halnya di salah satu kabupaten Mojokerto. Dalam rangka Harlah NU ke-94 GP Ansor Canggu Kecamatan Jetis mengadakan kegiatan diantara Pelatihan Bekam Tibbun Nabawi yang dilaksanakan oleh Rijalul Ansor Canggu.

    HARLAH NU-94 JETIS
    FOTO: PANITIA HARLAH NU-94 Desa Canggu-Jetis

    Terkait biaya, serta pelatihan ini, tidak dipungut biaya sepersen pun alias gratis. Bekam Tibbun Nabawi dilakukan pada Hari sabtu malam ini, berada di tempat Kopi Gladak, Tepatnya Di Dusun Balongsono Desa Canggu, Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (01/02/2020).

    harlah NU 94
    Foto: pengurus GP Ansor Jetis Bersama Muspika di Harlah NU ke-94

    Pada pelatihan ini, merupakan semangat kader dalam rangka menyambut Harlah Nu ke-94 ini, kordinasi untuk mempermudah agenda ini dibentuk, agar memudahkan peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut.

    “Harla NU ke-94 merupakan kebanggan kita sebagai kader untuk berperan mewarnainya, GP Ansor Canggu benar mengadakan pelatihan Bekam Tibbun nabawi, kita sudah menentukan kordinatornya untuk mempermudah peserta mengikutinya”. Tegas Abah Alim Banser Jetis ini.

    Tidak mau ketinggalan, PAGAR NUSA Canggu dalam rangka Harla Nu ke-94, diketahui pada hari Minggu, pukul 08:30 WIB  juga mengadakan Latihan Gabungan (LATGAB) yang dikuti oleh 500 orang Pendekar Pagar Nusa yang dilaksanakan di Lapangan Canggu. (02/02/2020).

    Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto
    Foto: Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah Nu-94

    Para pendekar-pendekar Pagar Nusa ini dalam Atraksi Melakukan; Pemecahan Benda Keras, Bambu Gila, Kekebalan, Jurus Yaa Hayyuu Yaa Qoyyum. Yang didampingi oleh senior-senior Ahli dari Pagar Nusa.

    Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

     

    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Antusiasme masyarakat dalam
    Foto: Menyanyikan Mars Subulul Wathon oleh Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut pecah, dengan menonton atraksi yang diberikan oleh Pasukan Pagar Nusa, tepuk tangan riyuh melihat atraksi ini. Skill dan kompetensi yang dimiliki peserta sudah melalui tahap latihan latihan yang telah diberikan bekal sebelumnya.

    Disisi lain, Harlah NU ke-94 ini juga dimeriahkan oleh MUSLIMAT dan FATAYAT desa Canggu Kecamatan Jetis, dengan mengadakan TAHLIL bersama, di Hari Minggu Paginya, yang dilaksakan di Musholla “Baitul Muttaqin” Balonsono, Jetis kabupaten Mojokerto. (02/02/2020).

    Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto
    Foto: Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto di Harla NU-94

     Kemeriahan giat Harla NU ke 94 ini, sudah direcanakan sejak awal, sehingga agenda tersebut dipersiapkan matang-matang oleh salah satu Banom NU ini. Terlihat jamaah yang memadati dari Mushollah tersebut. 

    Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto
    Foto: Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto di Harlah NU-94

    Kirim do’a dengan pembacaan Tahlil Bersama, menyambut Harlah NU-94 juga untuk keuntuhan NKRI juga, merupakah salah satu amaliyah NU yang sudah menjadi tradisi untuk setiap tahunya dalah memperingati Harlah NU-94, untuk dilaksanakan, dilestarikan yang dilaksanakan kader-kader selanjutnya.

    Meriahnya kegiatan HarlahNU-94 ini, juga diwarnai dengan giat “Gebyar Sholawat” oleh IPNU dan IPPNU Canggu Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (02/02/2020).

    IPNU dan IPPNU Gebyar Shalawat di Harlah NU-94
    Foto: IPNU dan IPPNU Gebyar Shalawat di Harlah NU-94

    Bertempat di Kopi Gladak pada Minggu Malam, salah satu banom NU dari IPNU dan IPPNU melaksanakan Pembacaan sholawat untuk kedamaian bangsa Indonesia pada Harlah NU-94 kali ini.

    Sholawat yang dibawakan oleh Generasi penerus ini, bertujuan juga untuk semangat meraih ridho ALLOH dengan akhir khusnul khotimah. Serta menyatukan tekat untuk mejaga NKRI dengan berkhidmat di NU. (WG-Infokom)

  • SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    Perlawanan Budaya dan Ideologi para Kyai

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.

    Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.

    Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.

    Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.

    Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.

    Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.

    Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.

    Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.

    Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.

    Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.

    Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.

    Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.

    Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.

    Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Lailatul Ijtima’ MWC NU Jetis, Cermin Kokohnya Persatuan Jamaah

    Lailatul Ijtima’ MWC NU Jetis, Cermin Kokohnya Persatuan Jamaah

    Cyberaswaja.online|Jetis. Kekuatan sebuah jam’iyyah bisa diukur dari seberapa besar kekompakan jamaahnya dalam menjalankan amanat organisasi. Dalam NU, salah satu cara untuk memompa semangat dalam berorganisasi adalah dengan mengadakan acara Lailatu Ijtima’. Acara ini biasanya diikuti oleh semua Banom dan Lembaga NU di seluruh tingkatan.

    Inilah yang dilakukan oleh jajaran MWC NU Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos, menyatakan kebanggaannya atas terselenggaranya acara lailatul ijtima’ ini. Menurutnya, lailatul ijtima’ ini sangat besar manfaatnya bagi seluruh warga Nahdliyyin Jetis. Karena dari kegiatan ini rasa ukhuwwah semakin tertanam, seluruh masalah dalam ranting tersampaikan ke MWC dan koordinasi dari PAC sampai Pengurus Ranting bisa maksimal.

    lailatul Ijtima MWCNU Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    “Di Jetis sudah menjadi agenda rutin bulanan bergantian antar ranting. Bahkan biasanya jumlah jamaah Lailatul ijtima’nya terbanyak se kabupaten,” Ungkap Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos, Senin (27/1/2020).

    Lailatul ijtima’ yang diadakan di Masjid Al Ittihad desa Perning kecamatan Jetis ini dihadiri sekitar 3000 warga Nahdliyyin baik dari kalangan muda maupun tua. Jajaran BANSER Satkoryon Jetis juga terlihat aktif ikut mengamankan dan mengatur lalu lintas jalan raya.

    “Kegiatan ini jelas sangat penting karena selain sholat dan doa bersama, jamaah juga memahami kondisi pergerakan NU, informasi yang dihadapi, sekaligus solusi terbaik untuk jamiyyah,”  imbuhnya. Adanya pertemuan seperti ini juga menambah wawasan jamaah dan semangat organisasi dalam membuat inovasi baru dalam pergerakan.

    lailatul Ijtima MWCNU Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    “Apalagi di era milenial seperti ini. Banyak berita yang harus disikapi dengan bijak oleh warga NU. Agar tidak mudah terprofokasi dan menimbulkan perpecahan dalam tubuh NU,” Tegas Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos.

    oto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-itihad Perning Kec.Jetisoto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-itihad Perning Kec.Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    Puncak kegiatan Lailatul Ijtima’ adalah Mauidloh Hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdul jalil Umar Lamongan. Tampak hadir pada kegiatan tersebut KH. Sholihin (Rois Syuriyah), H. Usail (katib), KH. Mahrus Ali (PC LDNU Mojokerto), H. Imam Muslim (bendahara PCNU Mojokerto) dan seluruh ketua ranting NU beserta seluruh Ketua Banom dan Lembaga NU kecamatan Jetis.

    Penulis ; Ki Narto
    Editor : WG-Infokom
  • KEUTAMAAN SHOLAWAT FATIH YANG DISEBUTKAN DIKITAB-KITAB

    KEUTAMAAN SHOLAWAT FATIH YANG DISEBUTKAN DIKITAB-KITAB

    InfokomBanserNU- Membaca Sholawat Fatih 1 kali dihadiahkan kepada ahli qubur dengan niat supaya ditebus dimerdekakan dari neraka (fida’/’ataqoh), maka dimerdekakannya seketika
    (al-Yaqutah, hal.: 61).

    Membaca Sholawat Fatih 1 kali menyamai (mendapat pahala sama dengan) semua bacaan tasbih, zikir, do’a yang terjadi di alam
    (Jawahir al-Ma’ani, jilid I, hal. 114).

    Apabila semua bacaan zikir, shighot sholawat, dan do’a satu per satu masing-masing dari semuanya bila setiap harinya dibaca 100 000 kali selama 100.000 tahun, dan pahala semuanya dikumpulkan menjadi satu, maka tidak bisa menyamai pahala Sholawat Fatih 1 kali
    (Khulashoh al-Wafiyah, hal. 70).

    SORBANSANTRI.COM

    Membaca Sholawat Fatih 1 kali menyamai (mendapat pahala sama dengan) 600.000 kali lipat sholawatnya semua malaikat, manusia, dan jin sejak alam diciptakan hingga hari membacanya ditambah 400 perang Sabilillah
    (al-Yaqutah, hal. 59, dan Bughyah al-Mustafid, hal. 271, dan Jawahir al-Ma’ani, jilid I, hal. 114).

    Jika diumpamakan ada 100.000 umat, pada setiap umat terdapat 100.000 kabilah (suku), setiap kabilah 100.000 orang masing-masing hidup 100.000 tahun setiap harinya membaca sholawat kepada Nabi saw. selain Sholawat Fatih, dan semua pahalanya selama 100.000 tahun itu dikumpulkan, maka tidak akan bisa menyamai Sholawat Fatih satu kali (Jawahir al- Ma’ani, jilid I, hal. 117).

    Mendapat pahalanya semua bacaan tasbih, zikir, solawat, do’a semua makhluk, manusia, malaikat, dan jin dengan dilipatkan 6000 kali (Jawahir al-Ma’ani dan Bughyah al-Mustafid, hal. 271).

    Apabila ada wali al-‘arif billah berumur satu juta tahun yang tidak membaca Sholawat Fatih, maka orang awam membaca sholawat Fatih 10 kali lebih banyak pahalanya dari pada wali tersebut (Khulashoh al-Wafiyah, hal. 69 dan Bughyah
    al Mustafid, hal. 270).

    Wallahu a’lamu bisshowabi…

    Demikianlah, di antara keutamaan Sholawat Fatih, dan masih lebih banyak yang tidak mampu disebutkan, yang lebih tidak mampu dijangkau angan-angan karena luasnya fadhol Allah ta’aala.

    Semoga manfaat