Tag: banser

  • Sekali Banser Tetap Banser

    Sekali Banser Tetap Banser


    SORBANSANTRI.COM

    Orang seperti Mbah Mujiono ini, tidak banyak, bisa dihitung jumlahnya. Dilahirkan sebelum bangsa ini merdeka. Pada di usia 6 tahun, sampai sekarang memorinya masih tajam untuk mengenang gelegar bom para sekutu berikut berondongan suara peluru.

    Waktu pun berlalu. Dan kini, Mbah No, sapaan akrab Mujiono (79) warga Jl. Abusono RT. 08 RW. 02 Nomor 20 Kelurahan Ngampel Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, menghabiskan sisa waktunya menjadi pemulung untuk bertahan hidup dengan barang rongsokan.

    Usia, baginya, tidak bisa menjadi alasan untuk meninggalkan pengabdian kepada bangsa, negara dan juga menjaga para ulama. Meski telah renta, namun semangat hidupnya dibuktikan dengan bergabung menjadi anggota Banser Ranting Ngampel.

    Hampir di semua kegiatan di Kota Kediri, sosok kakek bercucu dua ini, selalu tidak lepas dari sepeda onta yang mengantarkan ke mana pun dia pergi. “Saya dulu menggembala kambing milik Mbah Kiai Mahrus Aly. Saat itu, Tahun 1950, dari Cirebon diminta datang ke Pondok Lirboyo,” tutur Mbah No ditemui di rumahnya, hanya seluas 2 x 4 meter dengan dikelilingi barang rongsokan.

    Ikut Diklat Banser di Jombang.

    Memang, selain mengembala kambing titipan milik para tetangga, Mbah No juga mencari barang bekas berkeliling Kota Kediri dengan berjalan kaki. Barang-barang tersebut kemudian dikumpulkan di rumahnya, lalu ada yang datang untuk mengambil.

    Hasil yang didapat dari usaha ini, kisaran Rp900 ribu dalam sebulan. “Ya cukup buat makan sehari–hari, karena ketika sakit sudah mendapat keringanan bantuan dari pemerintah,” kata Mbah No sangat polos.

    Penghasilannya juga menyokong kebutuhan anak perempuan dan kedua cucunya yang masih duduk di bangku TK. “Saya mulai mencari barang bekas sejak Tahun 2006, setelah ditinggal mati istri. Anak dua, yang pertama laki-laki bekerja di proyek. Yang kedua perempuan telah lama cerai sama suaminya, tinggal di rumah bersama dua anaknya masih TK,” jelasnya.

    Terkait keikutsertaannya di organisasi GP Ansor, jelasnya, ini sudah dijalani sejak Tahun 1943 ketika merantau ke Cirebon, Jawa Barat. Ketekunannya menjadi pasukan Banser sehingga mempertemukannya dengan Mbah Kiai Mahrus Aly tahun 1950. Sedangkan Diklat Banser, ia ikuti sekitar tahun 2000 di Jombang.

    Mengabdi kepada Kiai dan organisasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Baginya sekali Banser tetap Banser. Seiring meninggalnya Mbah Kiai Mahrus Aly, Mbah Mo memutuskan aktif di organisasi Banser untuk mengisi waktu luangnya. Meski di bawah garis kemiskianan, namun sosok Mbah No tetaplah santun dan terlihat semangat yang luar bisa untuk mengisi waktu sehari–harinya. Tenaganya juga sering dibutuhkan untuk pengamanan acara.

  • BANSER dan HISNURI (Santri Nurul Iman) Awali HUT RI ke-75 Dengan Pasangan Umbul-umbul

    BANSER dan HISNURI (Santri Nurul Iman) Awali HUT RI ke-75 Dengan Pasangan Umbul-umbul

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-  Satkoryon Pacet Banser, PAC GP Ansor Pacet dan HISNURI (himpunan santri nurul iman) mengadakan giat rutin setiap tahun dalam memperingati HUT kemerdekaan RI.
    Acara yang diawali dengan pemasangan umbul-umbul ini dimulai dari Senin, 3 Agustus 2020 sampai selesai, yang selanjutnya akan diadakan kegiatan perayaan kemerdekaan di Bulan Agustus 2020.
    Kegiatan ini di fokuskan disepanjang jalan RT 1 dan RT 2 Dusun Pacet Nggapuk / Pacet Utara Desa Pacet Kecamatan Pacet Mojokerto yang mana daerah tersebut merupakan jalan utama menuju kawasan wisata air panas pacet.

    Hal ini perlu dilakukan karena kita sebagai warga Negara yang cinta akan tanah air, jangan sampai lupa akan karunia Alloh SWT dan pejuangan para syuhada di medan pertempuran dalam menegakkan kemerdekaan yang saat ini kita bisa rasakan. Kita sebagai kader saat ini memegang tongkat estafet mengiring dan mengisi kemerdekaan di Negara Indonesia ini.” ungkap salah satu anggota BANSER yang ikut dalam kegiatan itu.

    Sosialisasi dan Koordinasi ini sudah diagendakan sebelum Bulan Agustus 2020, dan baru dimulai kemarin Selasa 3 Agustus 2020 yang diawali dengan pencarian bambu yang kebetulan kawasan tersebut masih banyak bambu dipemukiman penduduk. Sampai berita ini di tayangkan, kegiatan tersebut masih berlangsung dan untuk hari-hari kedepannya di Bulan Agustus ini akan di isi dengan kegiatan-kegiatan kemerdekaan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang mana pada saat ini wabah covid-19 masih ada di sekitar kita.(ABI SORBAN)

  • ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Pernahkah kita memperhatikan cara kerja lampu atau kompor minyak tanah? Kenapa api hanya membakar ujung atas sumbunya saja? Karena sifat api hanya membakar apa yang ada diatasnya.

    Kalau begitu, bukankah posisi api itu sudah paling atas, dan seharusnya ia akan padam? Betul, seharusnya ia padam jika tidak ada bahan bakar.

    Minyak tanah itulah yang akan membuat api itu akan terus menyala. Dan api hanya mengikuti sifat alamiah atau hukum alam saja.

    Begitu juga dalam kehidupan. Sifat api dalam hati kita hanya membakar apa yang ada diatasnya. Api iri, cemburu, dengki dsb hanya membakar akibat keinginan yang lebih tinggi.

    Hukum alam api di dalam hati kita hanya akan memiliki sifat iri kepada orang yang lebih sukses, pandai, kaya, rupawan, dsb. Intinya, hanya kepada orang-orang yang berada di atas level kita.

    Ini tidak hanya berlaku secara personal.

    Juga berlaku secara kelompok, organisasi bahkan sampai pada level negara.

    Hati kita dengan lampu minyak setidaknya sebuah analogi yang identik. Api itu harus tetap menyala namun terukur agar menjadi semangat dalam kehidupan.

    Api yang kecil akan menerangi, namun jika ia besar dan tak terkendali justru akan membakar dirinya sendiri dan apa yang ada disekitarnya.

    Pun begitu dengan minyaknya sebagai pembakar semangat. Ia juga harus terukur dan terarah. Itulah kenapa ia hanya boleh mengalir dalam sumbu dan bukan disiramkan yang bisa memicu kebakaran.

    Jika seperti ini, ia bukan sebagai penyemangat melainkan sebagai provokator yang sifatnya merusak.

    Dalam skala sosial, semangat itu sendiri manifestasinya bisa dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Contohnya, ketika ada fenomena pembakaran bendera PKI.

    Orang-orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah rekayasa.

    Ideologi yang sudah tidak laku, tiba-tiba bangkit dan dikabarkan memiliki anggota 60 juta lebih di Indonesia.

    Disinilah perlunya ukuran nalar dan semangat kebangsaan yang terarah.

    Begitu pula dengan fenomena Klepon sebagai jajanan tradisional yang dianggap tidak Islami. Ini juga dituntut nalar dan semangat beragama yang terukur dan terarah.

    Dan terakhir tentang kejadian pembakaran baliho seorang tokoh.

    Bagi orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu akan paham sifat api yang membakar apa yang ada di atasnya.

    Itulah kenapa dalam video pembakaran bendera PKI dengan baliho gambar tokoh itu akan terlihat perbedaan cara atau teknis membakarnya.

    Bendera dibakar dari bawah, sedangkan baliho dibakar dari atas.

    Yang satu akan mudah terbakar, sementara satunya akan padam.

    Apalagi terduga pelakunya terafiliasi pada kelompok yang sama.

    Perhatikan, pikirkan dan rasakan. Sudah jelas bahwa rupanya ada penyiram minyak dalam kehidupan berbangsa dan beragama di negeri kita ini.

    Tujuannya bukannya untuk menerangi, melainkan agar negeri ini terbakar oleh adu domba akibat “ghirah” yang tak terkendali.

    Semoga kita selalu cinta damai…
    Walaupun blakangan ini ada perbedaan dan perdebatan politik hingga membawa sejarah palsu dan saling tidak menghargai.

    Hentikan itu semua, kita 1 saudara seatap NKRI HARGA MATI

    Kalian yang berjiwa cinta damai ayo repost foto ini mari tumbuhkan lagi jiwa nasionalisme kita..! Untuk Indonesai Raya ( POST SANTRI NU)

  • Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto

    Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jajaran relawan TIM SATGAS Covid-19 Kec. Pacet Mojokerto yang terdiri dari Gabungan  Banser Satkoryon Pacet, Polsek Pacet, Koramil Pacet, Pramuka, TAGANA dan Welirank Community. Melakukan kegiatan Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto.
    Acara tersebut diadakan di Kawasan Pacet Mojokerto terutama Jalan Raya yang biasanya ada rombongan motor dan mobil yang merayakan takbir keliling.
    Kamis,30 Juli 2020 Apel rencana kegiatan dimulai pukul 18.00 wib di Depan POLSEK Pacet dan pelaksanaan 17.30 wib sampai pukul 22.00 wib.

    Kegiatan tersebut adalah tindakan antisipasi jika terjadinya perayaan takbir keliling, yang tahun sebelumnya banyak adanya rombongan motor dan mobil menjelang Hari Raya Idul Adha.
    Dan dimasa pandemi covid-19 ini dilarang dengan adanya iring-iringan bergerombol malam takbiran dengan menggunakan kendaraan bermotor seperti mobil. Kita tidak akan melarang takbiran tetapi kita melarang perayaan takbir dengan cara bergerombol dan berkeliling” ungkap komandan apel dalam kegiatan tersebut.

    Kegiatan pengamanan ini menempatkan tiap-tiap titik yang dinilai sebagai pintu masuk kawasan Pacet Mojokerto seperti, POM Pandan Arum, Pertigaan Arah RS Sumber Glagah dan Pertigaaan Nggapuk menuju kawasan Wisata Air Panas Pacet Mojokerto.
    Dimulainya kegiatan ini dengan cara menyusuri jalan raya yang ada di Pacet Mojokerto dan berhenti di titik yang telah ditentukan pada pelaksanaan apel.(abi sorban)

  • TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kalimat ini pastilah sangat familier bagi Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan para pecintanya. Digaungkan membahana menebar semangat yang luar biasa.

    Namun, belum banyak yang tahu bahwa penggalan kalimat ini bukanlah kalimat biasa. Namun, kalimat penuh karomah yang pernah diucapkan oleh perempuan mulia pada zaman Rosulullah SAW.

    Beliaulah sahabiyah mulia Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. Beliau inilah yang berhasil melobi duta Islam Sayyidina Mus’ab Bin Umair RA supaya bisa langsung bersyahadat di hadapan Rosulullah SAW.

    Maka masuklah beliau dalam rombongan Bai’at Aqobah Kedua dan masuk jajaran assabuqunal awwalun dari kalangan Anshor. Tentu saja hal ini merupakan kejadian langka pada zamannya. Peristiwa luar biasa ini sampai diabadikan Gusti Allah dalam firmannya di QS Al Mumtahanah:12.

    Bunda Nusaibah inilah yang termasuk turut mengkondisikan Madinah sehingga menjadi tempat ternyaman untuk dakwah Rosulullah, sebab penduduknya sudah banyak yang menerima ajaran Islam.

    Beliau pulalah yang tampil luar biasa dengan memberikan “bonus” bagi perempuan yang berkenan masuk Islam akan diajarkan baca tulis. Dari jasa beliau inilah kelak di kemudian hari lahir generasi-generasi jenius dari ibu-ibu yang jenius. Yang mendakwahkan Islam hingga seluruh penjuru dunia.

    Dikisahkan, suatu pagi buta, ketika penduduk Madinah masih terlelap, beliau melihat kepulan debu dari kejauhan. Ini bukan pertanda baik. Ini merupakan pertanda ada musuh dengan pasukan berkuda dalam jumlah besar hendak menyerang Madinah.

    Perempuan agung ini segera masuk rumah. Membangunkan suami tercintanya. Sayyidina Sa’id Bin ‘Ashim RA. Beliau mengambil pedang dan memberikan kepada suaminya. Meminta supaya segera memberitahu Rosulullah.

    “Jangan kembali pulang sampai kita menang…!!!”. Itulah kalimat yang beliau ucapkan kepada sang suami. Sayyidina Said melapor kepada Rosulullah.

    Kaum Muslimin segera menggalang kekuatan. Menghadang penyerang di luar kota Madinah, di sekitar Bukit Uhud. Adapun Bunda Nusaibah tidak mau ketinggalan. Beliau segera menyiapkan perbekalan dan obat-obatan bagi para pejuang.

    Tibalah perang berkecamuk. Ketika pasukan Muslimin lengah, mengira bahwa musuh telah kalah, maka pasukan pemanah yang ada di bukit turun.

    Kesempatan ini dipakai oleh pasukan kafir menyerang kembali barisan kaum Muslimin. Lalu kocar-kacirlah barisan ini. Orang-orang bubar dari sekitar Rosulullah.

    Bunda Nusaibah meminta suaminya melindungi Rosulullah. Karena semua energi musuh ditujukan untuk menghabisi Kanjeng Nabi, maka jebollah pertahanan Sayyidina Sa’id. Beberapa kali tebasan pedang musuh mengakhiri pertahannya. Menuntaskan tugas mulia sebagai talangpati Rosulullah.

    Dan yang terjadi bisa ditebak. Pasukan kafir semakin merangsek ke arah Kanjeng Nabi. Beliau hanya menangkisi serangan dari berbagai penjuru hingga pelipis beliau terserempet anak panah.

    Melihat kejadian ini membuat Bunda Nusaibah segera bertindak. Beliau mengambil pedang dan menaiki kuda seraya memecah kepungan.

    Membabat puluhan tentara yang hendak melukai Rosulullah. Para Sahabat melihat kejadian ini terpesona luar biasa. Menyaksikan seorang perempuan menjadi perisai Rosulullah SAW.

    Lalu Para Sahabat Mulia merapatkan barisan dan berhasil memukul mundur Barisan Kafir. Kejadian ini membuat Bunda Nusaibah mendapatkan luka yang sangat parah sehingga jatuh pingsan. Beliau tidak sempat melihat akhir perang Uhud ini.

    Ketika bangun, beliau tidak bertanya tentang suami dan anaknya yang turut menjemput janji syahidnya. Yang beliau tanyakan adalah, “Bagaimana keadaan Rosulullah?”

    Ketika dijawab bahwa Baginda dalam kondisi tak kurang suatu apapun, beliau tersenyum bahagia, “Asalkan Baginda Rosul baik-baik saja, apapun yang terjadi maka biarlah terjadi”.

    Semoga cerita ini menjadi teladan bagi Ansor dan para pecintanya. Kepada perempuan NU terutama.

    Jadi, semangatlah selalu. Dan ketika Mars Banser dikumandangkan, turutlah bersemangat. Ngalap berkah Bunda tercinta kita Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA.

    Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad…

    Oleh: Shuniyya Ruhama
    Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri Kendal

    #INDONESIA_BILADI
    #BANSER_UNTUK_NEGERI

  • RAKER NU CARE-LAZISNU KECAMATAN PACET MOJOKERTO

    RAKER NU CARE-LAZISNU KECAMATAN PACET MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Selalu saja banyak KEGIATAN dan acara NU yang DIADAKAN Kecamatan Pacet. Kali ini sabtu, 11 Juli 2020 pukul 09:00 wib sudah dimulai lagi kegiatan yaitu RAKER NU CARE-LAZISNU KECAMATAN PACET MOJOKERTO. yang bertempatkan di Gedung Graha MWCNU PACET MOJOKERTO.

    Dalam bahasan kali ini LAZISNU menekankan bahwa LAZISNU selama ini rumornya yang cenderung bergerak di politik harus kembali dan menjaga Khittoh NU yaitu hanya bergerak dibidang keagamaan, kata Gus Dodi Diyauddin selaku pemateri dari PWNU Jawa Timur.

    SORBANSANTRI.COM

    Gus Dodi Diyauddin Manager Operasional PW NU-CARE LAZISNU JAWA TIMUR

    Dikegiatan tersebut melibatkan semua jajaran kepengurusan LAZISNU Kec. PACET MOJOKERTO seperti tokoh-tokoh agama IPNU IPPNU ANSOR BANSER Dll yang ada dibawah naungan MWCNU PACET MOJOKERTO.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Mempererat semua anggota LAZISNU serta melaporkan kinerja selama satu tahun, agar bisa evaluasi kerja selama satu tahun dan diharapkan agar kedepannya lebih baik lagi.

    Dengan melibatkan semua BANOM dan LEMBAGA, rencana ini merupakan kegiatan rutin agenda tahunan sebagai bentuk kontrol dan evaliasi organisasi.
    Tidak luput juga peran aktif banser dalam setiap kegiatan yang berada didalam aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah antara lain pengamanan yang dilakukan Banser Lalu Lintas (BALANTAS). (Abi SORBAN)

  • SILATURAHMI PAC GP ANSOR PACET SEBAGAI UPAYA REKONSILIASI

    SILATURAHMI PAC GP ANSOR PACET SEBAGAI UPAYA REKONSILIASI

     

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Usia pandemi makin hari makin memendek, dukungan pemerintah dan beberapa otonomi kedaerahan semakin menambah gemuk para pekerja produktif untuk melanjutkan estafet kegiatannya. Mojokerto dan Pacet khususnya, semenjak Sabtu “04 Juli 2020” kemarin, mulai dibukanya pelbagai tempat wisata kembali, lebih-lebih banyak wisatawan yang berdatangan ke daerah Pacet secara masif di hari-hari berikutya.

    Senada dengan hal itu tak menyurutkan semangat organisasi Nahdlatul Ulama untuk bangkit lagi mengadakan kegiatan setelah masa PSBB dimulai (4 bulan lalu lebih tepatnya). Kalangan Ansor PAC Pacet kali ini mengadakan kegiatan sejenis rekonsiliasi atas kegiatan dulu yang berjalan normal sebelum adanya himbauan masal dampak korona. Mereka kali ini mengadakan kegiatan yang bertajuk “Silaturahmi antar Kader NU”, yang inisiasinya berawal dari uneg-uneg beberapa sahabat-sahabat yang merasa resah memandang stagnasi gerakan kader NU cenderung pasif. Sedikitnya dalam kegiatan  ini dihadiri 100 kader antar banom dari Pacet.

    Mujiburrahman (ketua PAC Pacet) menyatakan dalam sambutannya bahwa secara eksplisit kegiatan ini merupakan langkah awal untuk menyambung tali silaturahmi kegiatan banom NU di Pacet, agar kedepannya tidak down dalam menghadapi situasi yang sama.

    SORBANSANTRI.COM

    Ada tiga poin dalam pidatonya kepada seluruh kader yang tengah hadir jika berbicara prinsip organisasi, yaitu : pertama “ulil amry” sebagai prisip  dalam mengemban amanah suatu organisasi, kedua “ulil albab” sebagai prinsip dalam mencetuskan ide-ide cemerlang sesuai khithoh warga Nahdliyyin, ketiga “ulil absor” sebagai pola terahir yang reflektif dalam menanggapi segala hal agar dapat  dikaji dan di tabayunkan (tutur Mujib).

    Hadir pada kesempatan kali ini Sekretaris PC GP Ansor Mojokerto, Komandan Yusuf. Kepada para kader ia berharap seluruh elemen kader dapat memfiltrasi informasi agar tidak tereduksi oleh plebagai isu publik. Sehingga arah juang kader NU masih tetap satu komando dan satu ideologi.

    “Berdoalah sedikit-demi sedikit, kirimkanlah tawassul kepada para muassis dan auliya se-dunia, kalau bisa tiap usau sholat, insyaallah barokah” (ujarnya dalam translit jawa). (red. Rizkillah – ipnu pac pacet)

  • Ketua Ansor Jember Dibunuh PKI

    Ketua Ansor Jember Dibunuh PKI

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI. Habib Ali bin Abdullah Alhamid terhitung masih keponakan Habib Sholeh Tanggul, Jember. Beliau meninggal secara syahid di usia muda, sekitar 32 tahun, setelah diculik dan dieksekusi mati oleh kawanan PKI di kawasan Hutan Kumitir, sekitar tahun 1965. Hutan itu jadi saksi bisu kekejaman PKI kepada para ulama.

    Setelah ditembak mati, jasad Habib Ali Alhamid pertama kali ditemukan oleh perempuan paruh baya yang sedang mencari kayu bakar. “Ono wong mati Arab, ono wong mati Arab, ono wong mati Arab,” teriak perempuan itu sambil berlari memberitahu suami dan warga lain di sekitar hutan. Saksi hidup anak yang menemukan jasad habib masih ada hingga tulisan ini dibuat.

    Habib Ali bin Abdullah Alhamid pada waktu itu adalah Ketua GP Ansor Jember. Tragedi pembunuhan bermula dari kunjungan seorang tamu yang memberitahukan kalau jamaah dan santri beliau, saat itu, tengah ditangkap dan diamankan di kantor kepolisian setempat.

    Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Habib Ali langsung berkemas menuju kantor kepolisian untuk memastikan kebenaran informasinya, karena memang saat itu situasi negara sedang tidak menentu. Tidak aman dan tidak kondusif.

    Di tengah perjalanan, ternyata Habib Ali diculik oleh gerombolan PKI, lalu diseret ke Gunung Kumitir atau Gunung Mrawan, yang terletak di perbatasan antara Jember dan Banyuwangi, Jatim. Tamu tersebut ternyata adalah suruhan PKI.

    Di lokasi yang telah ditentukan itu, Habib Ali hendak dieksekusi tembak oleh komplotan kejam PKI. Namun, peluru yang dihujamkan berkali-kali oleh PKI tidak mempan menembus dada sang habib. Habib Ali ternyata memiliki karomah kebal senjata. Tidak mempan senjata tembak.

    Pusing, tim eksekutor mengancam habib, yang isinya “jika pelurunya tidak tembus, maka, istri, anak dan semua keluarganya akan dibantai habis oleh PKI”. Dengan pelbagai pertimbangan, Habib Ali akhirnya hanya tersenyum dan menyerah, bersedia ikhlash dieksekusi mati.

    Namun, sebelum ditembak, Habib Ali bin Abdullah Alhamid berpesan agar setelah wafat nanti, jasadnya tidak dicampur dengan yang lain, sebagaimana kebiasaan PKI yang menumpuk mayat korbannya saat itu pasca eksekusi. Habib minta jasadnya disendirikan.

    Sebelum ditembak, Habib Ali mohon ijin untuk melaksanakan ibadah shalat sunnah dan berdoa. Usai shalat, habib memasrahkan dirinya ditembak demi menyelamatkan keluarga, para pengikut serta santri dan jama’ahnya. Atas kehendak Allah, peluru akhirnya bisa tembus dan Habib Ali Alhamid wafat dalam keadaan syahid di tangan PKI.

    Riwayat pembunuhan ini menjadi gamblang dan terang sejak ada seorang laki-laki tua yang ziarah ke makam Habib Ali lalu menangis sejadi-jadinya di sana. Sekitar tahun 2000-an. Ia datang ke makam untuk meminta ampunan dan mohon maaf kepada habib beserta seluruh keluarganya karena telah menembak mati sang habib.

    Ia datang ziarah setelah merasakan kalau hidupnya tidak tenang dan dirundung penyesalan tanpa akhir. Kepada keluarga, ia menceritakan kronologi tragedi tersebut dari awal hingga akhir. Keterangan yang didapatkan Duta Islam menyebutkan kalau laki-laki itu adalah seorang muslim yang terpaksa menuruti perintah PKI menembak Habib Ali.

    Saat ekseskusi, katanya, telinga kiri laki-laki itu sudah dicung senapan oleh anggota PKI. Jika dia tidak menembak habib, maka peluru di senapan yang dekat telinganya tersebut akan segera menyasar kepalanya sendiri. Karena takut atas ancaman tersebut, terpaksa dia mengeksekusi tembak Habib Ali. (sumber: dutaislam)

  • KENAPA SANTRI SELALU CIUM TANGAN GURU?

    KENAPA SANTRI SELALU CIUM TANGAN GURU?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Seorang pemuda bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz:

    Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak balik?

    Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?

    Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama makhluk?

    Tidakkah hanya Allah saja yang layak disembah?

    Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik. Habib Umar hanya tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari seorang pemuda tersebut.

    Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya.

    Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.

    Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya kebawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata: “Jangan menunduk!, tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

    “Tidak, aku hanya ingin mengambil pena ku di bawah.”

    Lantas Habib Umar berkata: “Aku ini ibaratkan pena, seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena, Begitu juga dengan murid-muridku mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku, Aku tidak pernah memaksa, aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda; Seorang thalabul ilim tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

    Inframe : Kiai Kafabihi Mahrus mencium tangan Kiai Dimyati Rois
    Credit : Ulama Nusantara

  • KUNJUNGAN KEMENNAKER KE PCNU KAB MOJOKERTO

    KUNJUNGAN KEMENNAKER KE PCNU KAB MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM
    Perwakilan penerimaan bantuan program

    SORBAN SANTRI – Dalam rangka penyerahan bantuan program kementerian ketenagakerjaan RI H. Ida Fauzia yang juga alumni IPPNU Kab. MOJOKERTO , Sabtu, 4 Juli 2020. Sebagian perwakilan dari masing-masing Penerimaan INKUBASI Perseorangan dan Perwakilan Pimpinan Pesantren yang ada di Kabupaten Mojokerto hadir pada acara tersebut berlangsung tertib dan masih memperhatikan standart protokol kesehatan.

    SORBANSANTRI.COM
    BANSER PROV juga ikut dalam pengamanan di kegiatan kunjungan kementrian ketenagakerjaan

    Acara yang berjalan mulai pukul 14.00 WIB, dimulai pembacaan ayat suci dilanjut dengan sambutan ketua PCNU KAB. KH. Adhim Alwi yang juga bangga merupakan prestasi bahwa KEMENNAKER RI 2020 asli dari alumni IPPNU kab. Mojokerto,
    Tampak hadir juga KH. MARZUKI MUSTAMAR (Ketua PWNU Jawa Timur) untuk memberikan Taushiah diacara tersebut. BUPATI MOJOKERTO H. Pungkasiadi, S. H. juga tampak hadir dalam acara tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    Menteri ketenagakerjaan H. Ibu ida Fauzia memberikan pesan dan semangat dalam pemulihan ekonomi

    Pentingnya pemulihan ekonomi masyarakat dimasa covid-19 sangat penting diperhatikan selain itu banyak PHK dan pengangguran bertambah, peranan pemerintah dimasa sekarang ini. Indonesia bisa SURVIVE dalam menghadapi krisis akibat covid-19 di banding negara lain adalah karena sifat gotong royongnya sebagai kebanggaan budaya seperti yang ada di pedesaan. (abi-sorban)